Kamis, 22 Januari 2015

Puisi Kartu Pelangi Yang Ternodai

Puisi di bawah ini berangkat dari beban hidup yang semakin berat. Meskipun telah berganti kebijakan-kebijakan yang katanya untuk orang miskin. 

Silahkan dibaca, moga bermanfaat. 

Kartu Pelangi Yang Ternodai 
Oleh : Fuadi

Kita diam tak bergerak
Menyaksikan antrian panjang
Dari subuh hingga petang
Kaki-kaki telanjang memamah tanya
Kapan embun datang menyejukkan dahaga

Yang tersaji hanyalah janji-janji melukai
Kartu-kartu bergambar pelangi
Indah dipandang tak sedap di hati
Kemana akan dibawa
Saat harga melambung tinggi

Aku cari kartu discount
Di langit buram
Di siang matahari memanggang
Di rumah-rumah kardus anak-anak meringkuk
Sebab rumah sakit telah sakit
Dokter-dokter jadi keder
Melihat obat-obatan kian belel   
Nyawa-nyawa ngeyel

Tuan tak bergeming
Mengeram hening
Padi mendongak jengah
Petak-petak sawah rekah


Alam Mayang, 24-11-14
Selanjutnya »

Rabu, 21 Januari 2015

Puisi Bulan Merindu

Puisi di bawah ini terinspirasi dari perselisihan paham antara anak dan orang tua. Sering kita baca atau dengar berita anak yang menggugat rumah tempat tinggal mereka yang berujung di pengadilan. 

Masih banyak kasus-kasus lain yang menyudutkan orang tua yang nota bene telah melahirkan, membesarkan dengan penuh kasih sayang. Menghalau rintangan besar dalam membesarkan anak kesayangan, tapi setelah mereka berhasil balasan dari anak sungguh diluar akal sehat kita sebagai manusia. 

Silahkan dibaca, moga bermanfaat. 

Gambar dari rohis-facebook.blogspot.com

 
BULAN MERINDU
Oleh : Fuadi

Bulan merindu
Di usianya nan senja
Matahari lelap dalam pangkuan
Hening bening

Ia ingin menyandarkan lelah
Dari hiruk pikuk dunia busuk
Yang menyeret tubuh ringkihnya, gelisah
Di atas altar bara amarah

Batabata yang ia susun dari puzzle kehidupan dulu
Rubuh luruh oleh jiwajiwa angkuh
Yang lahir dan dibesarkannya dengan segenap ruh
Kini berwajah keruh

Dalam pasrah, bulan masih merindu
Malam penuh bintang
Sayap-sayap malam mengepak tenang
Dingin angin membunuh ingin

Ia tak ingin lagi bertanya
Tentang titik temu abuabu
Dalam isak tangis tertahan
Ia dekap Alif sepenuh iman


Alam Mayang, 221214
Selanjutnya »

Minggu, 11 Januari 2015

Puisi Masjid 2

Maling atau pencuri memang terkesan tak memiliki hati. Dimana saja kapan saja, kalau niat sudah terpasang masjidpun jadi sasaran keganasannya. Moga saja maling atau pencuri di tunjukkan jalan yang benar kembali.

Ilustrasi dari www.radarkarawang.com

Berikut beberapa kisah dari masjid yang disinggahi maling dan akibatnya, selamat membaca moga bermanfaat.

Masjid 2
Oleh : Fuadi

Seorang musafir
Jam 12 malam di masjid ia mampir
Hendak menenangkan sejenak pikir
Sebelum malam berakhir

Ia lihat semua pintu terkunci
Sambil memandang ke jalanan sepi
Teringat ia honda beat saudaranya yang dicuri
Di depan masjid subuh kemarin pagi

Lain lagi kisah tentangganya
Yang kehilangan sandalnya
Bermerk Eiger asli buatan Indonesia
Masih di masjid di tengah pemukiman warga

Seorang anak laki-lakinya pun bercerita
Bulan puasa dua tahun bersela
Dua pemuda yang lagi jatuh cinta
Janji ketemuan di beranda masjid punya
Usai taraweh menjauhi masjid “cipiki cipika”
Menikmati malam minggu berdua

Ia sendiri dulunya muazin di desa kelahirannya
Sebelum berpetualang menyambung hidupnya
Di bumi Tuhannya
Namun masjid tak pernah ia lupa


Bingkai Hati, 070115
Selanjutnya »

Puisi Masjid 1

Secara bahasa, masjid bermakna tempat sujud. Secara istilah syar’i, masjid memiliki dua makna, umum dan khusus.
Makna secara umum mencakup mayoritas muka bumi, karena diperbolehkan  bagi kita shalat di manapun kita berada  (kecuali beberapa tempat yang dilarang oleh syariat). Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Telah dijadikan untukku seluruh muka bumi ini sebagai tempat sujud dan alat untuk bersuci.” Muttafaq ‘alaihi
Maknanya secara khusus masjid sesuai sabda nabi “ …(masjid-masjid itu) hanyalah dibangun untuk berdzikir kepada Allah ‘azza wa jalla, shalat dan membaca Al Qur’an.” HR Muslim. Dikutip dari : https://abuabdurrohmanmanado.wordpress.com/tag/pengertian-masjid/

Meskipun fungsi utamanya sebagai tempat menegakkan shalat, namun Masjid bukanlah hanya tempat untuk melaksanakan shalat saja. Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, selain dipergunakan untuk shalat, berdzikir dan beri'tikaf, Masjid bisa dipergunakan untuk kepentingan sosial. Misalnya, sebagai tempat belajar dan mengajarkan kebajikan (menuntut ilmu), merawat orang sakit, menyelesaikan hukum li'an dan lain sebagainya. Dikutip dari : http://www.masjidrayavip.org/index.php option=com_content&view=article&id=125:fungsi-dan-peran-masjid&catid=45:artikel-islam&Itemid=67



Di bawah ini puisi tentang masjid, silahkan dibaca, moga bermanfaat. 


Masjid 1

Oleh : Fuadi

Pintu-pintu yang terbuka
Mengucap salam untuk semua
Tak memandang kasta
Tak mengundang, silahkan datang
Yang beriman sujud ke pangkuan
Yang alpa minta ampunan
Yang lupa kembali ke jalan kebenaran

Muazin memanggil
Lutut menggigil
Sarung, mukena berjajar
Tinggallah sejenak kelakar
Menuju-Mu merekatkan ikrar

Ini rumah Tuhanmu
Setia menunggu
Jangan tunda-ragu
Tuhan itu satu 
yang selalu menerima sembah-sujudmu 


Bingkai Hati,050115

Selanjutnya »

Sabtu, 10 Januari 2015

Puisi Seribu Dua Ribu

Selamat berjumpa lagi. Kali ini puisinya tentang nilai uang kita yang terus merosot nilai tukarnya. Silahkan dibaca semoga bermanfaat. 



Seribu Dua Ribu 
Oleh : Fuadi 

Kalau bisa memilih
Seribu aku pilih
Lahir 2002
Warna biru lambang dinamis
Tidak cengeng dengan kondisi
Dilipat, diremuk tetap suka warnamu

Lain hal dengan dua ribu
Lahir 2013
Putih tapi pasi
Sedikit cengeng
Mudah robek,
Cepat kotor
Apalagi inflasi

Tapi sayang, seribu didiskualifikasi
Ditarik dari peredaran karena uji masa berlaku
Yang dinamis miris
Yang pasi belum pasti

Keduanya sih pahlawan
Tapi harga seribu bernilai lebih
Setidaknya menurut wafer tango, chocolatos
Seribu dapat dua

Harus berhemat zaman ini waktu
Sebab semuanya diukur dengan kartu
Baik di swalayan, sekolah dan gardu
Tinggal digesek silahkan tunggu 

Sayang! semua bukan urusan kamu  




Alam Mayang, 071214
Selanjutnya »

Sabtu, 03 Januari 2015

Puisi Ketika Biang Cahaya Pergi Untuk Selamanya

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT. Bagi umat Islam Nabi Muhammad SAW adalah teladan dan seharusnya memang demikian. 

Puisi di bawah ini sedikit mengenai bagaimana keadaan umat Islam setelah ditinggal pergi Nabi Muhammad SAW untuk selama-lamanya. Silahkan dibaca semoga bermanfaat.  


Ketika Biang Cahaya Pergi Untuk Selamanya 
Oleh : Fuadi

Tak ada yang bisa melukiskan sedih begitu dalam ditinggal pergimu
Tidak juga selendang Fatimah nan basah
Bahkan Singa Padang Pasir sekalipun tertekuk  
Khulafaur Rasyidin menggenggam duka
Wajah wajah tawaduk tertunduk pasrah, muhasabah  

Gurun itu kini diam seribu bahasa
Siuran angin berhenti, hening mencekam
Cerukceruk hati diadukaduk bimbang, gamang
Saat biang cahaya kembali kepangkuan kekasihnya 

Pelitapelita mencoba menafsirkan titahmu
Dengan segenap jiwaraga
Melewati badaibadai gurun berpasir
Menyulut kembali suluhsuluh penerang di ranah gelisah akidah
Sebelum rebah dalam sejarah hikmah
  
Lalu dekade buram menghampiri
Kiblat musafir berganti
Zaman nan purba kembali

Tinggallah lilin-lilin, redup ditiup angin, goyah diterpa gelombang
Lilin yang dibakar, terbakar, membakar
Dan terkapar


Bingkai Hati, 120114


Selanjutnya »

Rabu, 31 Desember 2014

Puisi Hujan Tak Pernah Salah

Kita semua pasti sangat kenal dengan namanya hujan. Hujan adalah rahmat dari Allah SWT. Dengannya Dia menumbuhkan apa yang ada di bumi. Waktu kecil kita sering hujan-hujanan. Pada umumnya hujan sangat ditunggu oleh anak-anak. Tapi sekarang hujan seperti sebuah dilema, karena hujan banjir, karena hujan pakaian tak kering dan sebagainya. 

Lalu apakah hujan salah?. Silahkan dibaca. moga bermanfaat. 


Hujan Tak Pernah Salah
Oleh : Fuadi 

hujan Desember
ember-ember berseliwer
petir nyamber-nyamber
sungai-sungai luber

anak-anak senang
berenang tertawa riang
di tengah banjir yang menggenang
luapkan rasa terkekang

arus bah melimpah masuk bilik
banyak ibu-ibu mendelik
tercekik
terpekik

tahun lalu, kini pun banjir bolak balik
“Malah bertambah parah”, kata Pak Lik
“Tik tik tik tak menemui titik, ya iyalah”, jawabku berbisik  
  
ohh, duniaku duniamu
telah menjadi ambigu
dulu hujan ditunggu
sekarang bagai hantu

siapa benar siapa salah
kembali, rujuklah
sebab hujan tak pernah salah
kitalah yang salah kaprah 


Bingkai Hati, 271214
Selanjutnya »

Selasa, 02 Desember 2014

Puisi Kau, Aku Pada Suatu Waktu

Puisi di bawah ini termasuk ke dalam puisi kritik sosial, setidaknya menurut penulis, hehe. Selamat menikmati, salam Bhineka Tunggal Ika, untuk Indonesia Merdeka. Silahkan dinikmati, moga bermanfaat.  
wisatamenarik.com


Kau, Aku Pada Suatu Waktu
Oleh : Fuadi

Jika kau melewati jalan ini suatu waktu
Singgahlah di dangau itu dulu 
Di antara riuh pohon bambu
Jernih bersih air mengalir, usik hatimu
Di sela-sela batuan bukit hijau
Dan suara azan hentikan igau

Mari ke sini
Sekadar mencicipi teh hangat di hari senja
Sekadar duduk di beranda kayu maha karya anak bangsa
Dan senda gurau yang telah lama kita tunda
Mengalirlah cerita lama mengunggah warna
Rekat melekat
Kita dekat

Singgahlah
Sebab bulan tak selamanya menerangi malam
Kadang awan hitam membuat malam bungkam
Kisi-kisi hati seakan mati diiris belati
Doa-doa menjadi lenguhan tak bermuara

Datanglah, tanggalkan jumawa  
Ketika pikiran mengalir sejuk bak embun pagi
Berpadu padan dengan gemericik sendang 
Nyanyian alam mengabarkan cinta dan duka

Lihatlah dari sini
Tentang negeri
Tentang panji-panji yang diingkari
Tentang merah-putih sedih
Bisikan ilalang malang
Koor kodok menyambut hujan
Suara cicak mendecak-decak  
Yang tak pernah kau temui di istana ingin
Tempat luka kau balut sendiri
Tempat duka menggurita masa
Dan senyum hanyalah hiasan bibir
Di belakang anak negeri mencibir

Lalu bertanyalah pada hati masing-masing
Tentang kita yang tak pernah sama
Di negeri yang sama
Di bawah bendera yang sama 

Bingkai Hati, 040614
Selanjutnya »

Puisi Lembah Anai

Puisi di bawah ini adalah puisi tentang alam. Indonesia termasuk salah satu negara yang mempunyai alam yang indah. Salah satunya adalah Lembah Anai yang terletak di Padang Panjang Sumatera Barat. Mari menikmati, semoga bermanfaat. 

www.yukpegi.com

Lembah Anai 
Oleh : Fuadi 

Kelok berkelok jalanan menyisiri bukit
Sapa menyapa kendaraan lalu lalang
Gemuruh riuh air mengalir
Mencacah batu membentuk lubuk
Di Silaing Padang Panjang
Lembah anai memanjakan pandang

Singgah sejenak melepas penat
Manjakan tubuh lelehlah lelah
Rebah sudah pikiran sansai
Lena diri di air jernih
Berenang senang mengulur waktu

Berphoto ria bersama keluarga
Sanak saudara turut bahagia
Makan bersama bersendawa
Tertawa berbagi ceria
Di hari nan fitri atau menyulam rencana lama

Kala senja datang menjelang
Beramai-ramai menuju pulang
Lembah Anai terpatri di hati
Di lain masa kami ke sini   

Pekanbaru, 220514


Selanjutnya »

Rabu, 26 November 2014

Puisi Di Pesta Rakyat Abah Menangis

Saya baru tahu kalau ini adalah puisi Sakmasek (berasal dari bahasa Madura). Sebuah puisi kritik Sosial, semoga yang dikritik tidak marah. Silahkan di nikmati, semoga bermanfaat. 

www.livakara.com

Di Pesta Rakyat Abah Menangis
Oleh : Fuadi

Di seantero nusantara
Indonesia raya masih saja berduka

Para pelayan
Elok nian wajah polesan
Semesta alam memandang penuh kemasygulan
Terompet hura hura mengiringi melodi melodi kerasukan
Arak-arakan lagu tumpah ruah menyambutmu bagai kesetanan

Rencana tuan
Apakah yang akan dimainkan
Ketika bumi pertiwi mengandung beban
Yang tersaji hanyalah kamuflase awal perjumpaan
Akan dibawa kemana surat suara rakyat yang jutaan
Tentang kemerdekaan, kemakmuran, kedamaian sesuai janji tuan

Amanah dihelatkan
Bukannya ditangisi di depan Tuhan
Aku hanya geleng geleng kepala menyaksikan
Habis sudah harapan lima tahun yang akan datang kawan

Mengusap bulir air mata
Emak melihat tungku tak menyala
Nenek melihat matahari makin membara
Adik, entah kemana akan melanjutkan sekolahnya
Nelangsa hati menyaksikan berita berita makin tak berbudaya
Getir, pahit hidup akan terus mengiringi walau raja berganti rupa 
Inilah kisah satu keluarga, hidup dari kayu yang semakin hari makin langka  
Satu satu langkah ayah tertatih menghapal musim dilewati penuh derita luka nestapa    


Alam Mayang, 201014 
Selanjutnya »

Senin, 24 November 2014

Puisi Wasiat Kepada Jundullah Untuk Kemerdekaan Palestina : Anakku

Kalau saja diajukan suatu pertanyaan, siapakah yang berhak masuk surga?. Mungkin jawabannya adalah orang-orang Palestina. Mengapa? karena di sana sudah terlalu banyak para syuhada, anak-anak yang hapal Al-Quran dan ibu-ibu yang kehilangan segalanya demi membela tanah air tumpah darah mereka yang dirampas oleh zionis Yahudi. Sedang kita di sini asyik bernyanyi, tertawa. Pantaskah mengharapkan surga Allah yang sama dengan mereka?  

Puisi di bawah ini sedikit rasa simpati saya terhadap perjuangan rakyat Palestina. Silahkan dibaca moga bermanfaat. 



Wasiat Kepada Judullah Untuk Kemerdekaan Palestina 
: Anakku 
Oleh : Fuadi 

Rumah-rumah hancur lebur
Masjid-masjid dibombardir
Sekolah-sekolah rebah
Di bawah puing-puing berserakan darah

Ini bukanlah perang
Ini adalah pembantaian sadis zinonis
Agar generasi quran terkikis habis

Generasi itu adalah kau, anakku!
Yang menantang maut dengan batu
Membusungkan dada di muntahan peluru
Untuk kemenangan di mata TuhanMu

Anakku, jangan takut ataupun kalut
Seperti ibu yang tak pernah ragu melahirkanmu
Untuk kemerdekaan Palestina satu

Anakku, engkaulah jundullah
Berjuang fisabilillah
Gugurmu meninggalkan amanah
Majulah terus, pantang menyerah
Sebab kita adalah umat pilihan Allah
Untuk memberangus zionis laknatullah

Anakku
Takkan ada malam purnama di Palestina
Sebelum panji-panji khalifah berkibar di Al-Aqsa

Bingkai Hati, 010814

Doa untuk Palestina


Ya Allah selamatkanlah saudara-saudara kami di Palestina, sebagaimana Engkau telah menyelamatkan kota Mekkah dari serangan tentara bergajah. Sebagaimana juga Engkau telah menyelamatkan nabi Musa as dari kekejaman Fir’aun laknatullah. 

Ya Allah, merdekakanlah Palestina, kembalikan hak-hak mereka yang telah dirampas oleh penjajah Zionis Yahudi. Aamiin 
Selanjutnya »

Puisi Camkan Itu Wahai Zionis

Kalau saja diajukan suatu pertanyaan, siapakah yang berhak masuk surga?. Mungkin jawabannya adalah orang-orang Palestina. Mengapa? karena di sana sudah terlalu banyak para syuhada, anak-anak yang hapal Al-Quran dan ibu-ibu yang kehilangan segalanya demi membela tanah air tumpah darah mereka yang dirampas oleh zionis Yahudi. Sedang kita di sini asyik bernyanyi, tertawa. Pantaskah mengharapkan surga Allah yang sama dengan mereka?  

Puisi di bawah ini sedikit rasa simpati saya terhadap perjuangan rakyat Palestina. Silahkan dibaca moga bermanfaat. 

www.islamedia.co


Camkan Itu Wahai Zionis
Oleh : Fuadi

Palestina-Gaza
Adalah hamparan ladang para syuhada
Membentang nyalang di usia muda
Kidung asmaul husna bergema di dada
Mencari ridhaNya

Di bawah hiruk pikuk peluru terkutuk
Dan tank-tank laknat tukang mabuk
Tak akan surut langkah kian bergairah
Membela agama Allah
Tanah tumpah darah

Ooo, zionis bengis nan sadis
Kemarilah kau halangi langkah
Akan ku kenalkan kau pada batu dan linggis
Biar bertebar darah di tanah

Aku gugur, kau lebur

Lalu hatimu mati
Jiwamu mati
Wajahmu pucat pasi
Neraka jahanam siap menanti

Sedang aku pergi
Menemui Illahi
Wajahku berseri
Surga tempatku nanti

Bingkai Hati, 180714


Doa untuk Palestina : 

Ya Allah selamatkanlah saudara-saudara kami di Palestina, sebagaimana Engkau telah menyelamatkan kota Mekkah dari serangan tentara bergajah. Sebagaimana juga Engkau telah menyelamatkan nabi Musa as dari kekejaman Fir’aun laknatullah. Aamiin 
Selanjutnya »

Selasa, 02 September 2014

Puisi Pemilu (Kutetapkan Pilihan)


Hasil dari pilpres 2014 sudah kita ketahui bersama dengan terpilihnya Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Republik Indonesia yang ke-7. Ini berdasarkan keputusan MK (Mahkamah Konstitusi). 


Puisi di bawah ini sengaja saya posting untuk mengingatkan kita kembali sebagai warga negara untuk hati-hati dalam menjatuhkan pilihan. Sebelum memilih ada baiknya kita harus tahu siapa yang akan dipilih. Carilah informasi sebanyak-sebanyaknya menyangkut hal yang akan dipilih, bisa melalui media massa, orang terdekat kita, orang yang dapat dipercaya perkataannya. Agar nantinya kita tidak menyesal dengan pilihan yang telah kita tetapkan.


Selamat menikmati.
Wassalam, semoga bermanfaat.

  

Kutetapkan Pilihan

: Prabowo Subianto

Oleh : Fuadi

Rekam jejak menerkam dengan galak 
Menusuk hatimu dengan telak 
Dan kau tak bisa mengelak
Ambil tanggung jawab sebab anak buah sudah bergerak 
Mengelus dada agar jiwa melunak

Kisah1998 merentang nyalang  
Jalan panjang nan jalang
Engkau lewati penuh teka teki
Dicaci, dimaki, dibully sana sini
Para pemuda ikut tersulut
Akupun ikut hanyut

Sampai pada 2014
Ada dua pilihan membentang
Aku sangatlah bimbang
Hati kecilku bicara ngambang

Alam maya kini jadi kawanku
Segala situs kutuju
Agar tak salah ramu
Agar hilang segala ragu

Matahari Solo begitu rancak
Memikat hati rakyat banyak
Jemariku kembali bergerak
Siap grak

Satu dua pulau dijalang
Tak kutemukan jalan pulang
Produk ini setengah jadi
Perlu diulang kaji

Makin dikaji semakin lari
Aku tinggal sendiri

Ah, aku kecewa
Matahari rupanya citra
PKL Solo ditinggal merana
ESEMKA bagaimana cerita
Lelang jabatan hanya format saja
Kekuasaan tetap padanya
Lalu muncul bus Trans Jakarta
KPK takmau menjawab tanya
Baru-baru ini adalagi berita
Penyegelan salah satu TV buncah di dunia maya
Ah, aku terpana putuskan sampai di sini saja

Diam-diam aku alihkan cerita
Pelanggar HAM itu sedikit menggoda
Diantara cerita yang merebak
Jantungku sedikit berdetak
Rupanya ada cerita dibalik cerita
Dikemas sedemikian rapinya
Agar engkau dijadikan ikon racun berbahaya

Ah, aku mulai bergairah
Telisikku membuka celah

Engkau rupanya adalah mawar hijau
Panji-panji Islam melekat pada sepak terjangmu
Aa Gym dan Arifin Ilham cukup bukti buatku
Perwira hijau yang melawan sekutu merah putih dulu  

Adalagi yang perlu dicatat
Dia bukan dipecat
Tapi diberhentikan dengan hormat
Terima pensiun itulah hakikat
Aku semakin terpikat

Aku mulai merasa lega
Ooh, ternyata
Ada pemuda16 tahun dengan LSMnya
Pertama di Indonesia
Waw, keren tentunya
Tak sampai disitu rupanya
Baktimu pada negeri sampai jua di Papua
8.000 anak asuhmu kembali bisa tertawa
Bukti yang tak terekam oleh media
Dan memang tak perlu untuk sebuah pahala

Begitupun dengan budaya
Pencak silat mendunia
Berbagai penghargaan sebagai tanda

Engkaulah matahari juga rembulan
Membakar semangat dikala siang penyejuk di malam kelam menelan  

Bingkai Hati, 040714


Selanjutnya »