Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Agustus 2012

Belajar Menulis Puisi


Hai sahabatku sekalian, pada postingan kali ini saya ingin bercerita tentang menulis puisi. Puisi lahir dari perasaan jiwa atau "Puisi adalah bahasa jiwa", ini menurut saya sob. Mengapa saya sebut demikian, karena menurut saya puisi itu lahir dari apa yang kita lihat, dengar, rasakan, dari pengalaman pribadi yang dituangkan menurut imajinasi dan melahirkan kata-kata indah yang lahir dari dalam jiwa seseorang. 

Dibawah ini ada beberapa puisi yang saya buat sendiri. 

Hening 

Hening yang selalu dinanti
Dalam terang maupun kelam
hening yang merenung tentang diri, alam,
mencurahkan dalam kisah keseharian

Hening
Tempat yang damai untuk
menumpahkan segala rasa
Menjadi sejuk,
begitu nyaman

Tak terasa bulir air mata menetes
mengingat kekerdilan diri dihadapan-Mu
sang khalik pencipta alam mayapada
Di atas sajadah ini,
ku ingin mengurai dosa pada-Mu
Izinkan hamba penuh dosa ini memanggil-Mu

Malam ini........
Terimalah sembah sujud hamba
Bisikkan pada malam-Mu
ada hamba yang rindu pada malam hening-Mu
Untuk menyembah kebesaran-Mu, amin


Lembah Damai & Dalam Dekapan Cinta-Nya (JIPN), Juni 2012

Puisi ini pernah dilombakan dengan tema "Dalam Dekapan Cinta-Nya" yang diselenggarakan oleh JIPN. Dari ratusan peserta alhamdulillah puisi saya belum masuk kategori. Namun saya tetap bangga sob. Sebagai penulis pemula dan baru mengikuti lomba ada perasaan senang yang mengalir dalam diri. Puisi saya yang selama ini terbuang entah kemana sekurang-kurangnya telah dibaca oleh Panitia Lomba hehee. 

Saya menyadari puisi saya belumlah sempurna masih banyak cacatnya. Dengan ikutan lomba saya bisa mengambil pelajaran dan mengetahui sampai dimana kemampuan saya dalam hal menulis puisi sambil memompa semangat untuk menulis puisi dan mengikuti lomba lagi sampai menang. 

Harus optimis, selalu itu yang senior bilang kepada saya. Sebab keberhasilan tidak akan tercapai tanpa ada niat yang baik, kerja keras dan selalu berdo'a pada Sang Khalik alam semesta. Segalanya berawal dari nol. Tidak ada yang langsung besar. 

Kenangan Lama
Oleh : Fuad Adi vs Niva Yasmin

Melukis harap dalam kanvas angin,
Membelai cemas dalam kerinduan panjang.
Denting gitarmu membelai,
Jiwa terpasung, angan melambung,
Akankah semua sama disana.

Meneguk purnama menghiasi sang malam,
Berburu kerelaan dalam keikhlasan.
Pucuk-pucuk cemara bermandikan cahaya,
Embun menawarkan sejuta sejuknya,

Melafaskan arus mimpi diri,
Dalam ladang harap terucap.
Zikirnya menguak mega-mega.
Datanglah sebelum sesal menghujat, mengabur.

Menadah kehilangan arah kompas,
Serpihan purba sulam menyulam
Tafakur di liang perih duka,
Memunggah sejarah kenangan lama.

Nah puisi ini adalah kolaborasi saya dengan Niva Yasmin, seorang sahabat yang sama-sama sedang membangun kerajaan puisi masing-masing. Puisi ini belum pernah di publikasikan, mudah-mudahan saja kalau dia membaca puisi ini tidak marah kepada saya.

Di sini saya ingin mengatakan bahwa dalam hal menciptakan puisi tidak mesti sendiri, tapi bisa juga kerjasama dengan orang lain. Saat ini kami berdua tergabung dalam sebuah wadah yang diberi nama Writing Revolution (WR) Pimpinan Joni Lis Efendi. Sebuah wadah yang secara online di alam maya untuk melahirkan penulis-penulis handal.

Jika ada pembaca yang mengerti tentang dunia kepenulisan nyasar ke blog ini tolong diberi masukannya bagaimana menulis puisi yang baik, dan puisi ini dimana letak kelemahannya, mohon koreksinya. Selebihnya semoga Sang Maha Penyayang memberi pahala kepada saudara, amin. 

Nah untuk sahabatku yang senang dengan puisi atau senang menulis cerpen dan masih mencari sandaran berpijak, lebih baik anda bergabung bersama kami. Karena di sini semua tersedia sob, mulai dari konsultasi puisi, lomba puisi dan cerpen. Selanjutnya bagaimana kita memanfaatkan fasilitas yang dengan sebaik-baiknya.

Demikian, semoga bermanfaat.    

Selanjutnya »

Minggu, 22 Juli 2012

Lomba Cerita Hari Anak Nasional



LOMBA CERITA HARI ANAK NASIONAL 2012
DL: 31 Agustus 2012

Tema: "Aku Melawan Korupsi"

*15 Tulisan Nominator Dibukukan Cetak Nasional

Tujuan:
Akhir-akhir ini sangat menyentak kesadaran kita mengenai fenomena maraknya terungkap kasus korupsi yang melibatkan elit-elit politik, dan lebih mirisnya yang terjerat hukum gara-gara korupsi itu adalah para pemimpin yang seharusnya mereka adalah panutan bagi bangsa ini. Hal ini sangat terkait dengan minimnya pendidikan "bahaya korupsi" dan dampaknya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara di bangku sekolah. Sekarang ini sudah ada pendekatan "melawan" korupsi yang dikenalkan pada anak-anak sekolah dasar dan menengah pertama.

Untuk menunjang program pemerintah mengenai pendidikan antikorupsi sejak dini, kami merasa terpanggil untuk membuat lomba cerita anak yang bertemakan tentang korupsi, bagaimana anak-anak dengan kepolosan dan kejujuran mereka bisa menjadi "alarm" dan pencegahan untuk menghindari tindakan korupsi sekecil apapun itu. Dengan cerita-cerita ini, pesan "melawan" korupsi akan lebih mudah dicerna dan dipahami oleh anak-anak usia SD dan SMP. Sehingga anak-anak bisa menyerap nilai-nilai kejujuran, moral dan agama dari cerita-cerita tersebut.

Kriteria Cerita:
  1. Cerita seputar dunia anak-anak yang berkaitan dengan semangat "melawan korupsi" yang bisa ditumbuhkan sejak usia dini. Tema ini bisa dijadikan menjadi topik-topik sederhana bagaimana seorang anak yang jujur mengembalikan milik orang lain, tidak mengambil punya orang lain, tidak menipu, berbohong dan menanamkan jiwa disiplin supaya tidak sering malas sekolah atau ogah-ogahan menyelesaikan tugas (korupsi waktu), dan cerita-cerita lain yang ada hubungannya dengan "korupsi" dalam lingkup yang lebih luas di dunia anak-anak.
  2. Cerita anak ini berisi tentang pesan-pesan moral, kejujuran, kedisiplinan, ketaatan pada ajaran agama yang melarang melakukan korupsi atau tindakan yang bisa menjadi kebiasaan orang melakukan korupsi.
  3. Tokoh utamanya adalah anak-anak (usia 6-15 tahun).
  4. Menggunakan bahasa yang sederhana, lugas, cara bercerita yang mengalir, pesan yang disampaikan mudah dipahami anak-anak.
  5. Tidak menggunakan bahasa-bahasa vulgar, asusila, SARA dan kata-kata yang tidak pantas dibaca anak-anak.
  6. Panitia bisa menganulir naskah yang tidak sesuai dengan kriteria cerita yang kami inginkan di atas.

Syarat Penulisan:
  1. Terbuka untuk umum dan Writing Revolution, gratis.
  2. Maksimal mengirimkan 2 tulisan.
  3. Panjang tulisan 3-5 hlm, spasi 2, New Time Roman font 12, margin 3 cm atau 1,18 inchi semua sisi.
  4. Naskah dikirimkan dalam format LAMPIRKAN FILE (Attach File) ke email:antologi_wr@yahoo.co.id
  5. Tulis judul email: Lomba Cerita Anak
  6. Diharapkan mempublikasikan informasi lomba ini di note FB (minimal tag 30 teman) atau Blog.

Hadiah:
  • Juara I: Uang tunai Rp 300.000,- (ditambah 3 buku bukti terbit + e-sertifikat).
  • Juara II: Uang tunai Rp 200.000,- (ditambah 3 buku bukti terbit + e-sertifikat).
  • Juara III: Uang tunai Rp 100.000,- (ditambah 3 buku bukti terbit + e-sertifikat).
  • 3 Juara Harapan mendapat beasiswa Sekolah Menulis Cerpen Online (SMCO) Writing Revolution (ditambah 1 buku bukti terbit + e-sertifikat).
  • Setiap nominator mendapatkan buku 1 bukti terbit + e-sertifikat.

Sistem Penerbitan Buku:
  • 15 tulisan terpilih sebagai nominator akan dibukukan, cetak nasional, masuk Gramedia, Togamas, Gunung Agung, dll.
  • Setiap kontributor mendapatkan royalti dan buku bukti terbit.
  • Buku diterbitkan Oktober

Sponsor:
  • Penerbit Writing Revolution (WritingRevo Publishing).
  • Sekolah Menulis Cerpen Online (SMCO), info lebih lengkap silakan klik: http://writing-revolution.blogspot.com/

Pengumuman: 15 September 2012

Kontak Panitia:
Telp. 0274-8593096
Hotline. 085763208009
E-Mail: antologi_wr@yahoo.co.id

Selanjutnya »

Kamis, 22 Desember 2011

Cerpen Pertamaku


Cerpen Pertamaku  






Aku ingin sekali menulis, tentang apa saja. Dengan menulis bisa meringankan beban pikiran. Dengan menulis bisa menambah perbendaharaan kata. Dengan menulis bisa melampiaskan uneg-uneg di hati dan masih banyak lagi manfaat dari menulis, entah itu berupa cerpen, puisi, dan lain sebagainya. 

Seperti aku hari ini, ingin sekali membuat suatu cerpen. Aku mulai mereka-reka tentang apa yang akan ku jadikan topik cerpenku. Apakah judul duluan, atau ceritanya dulu, baru membuat judulnya, yang dirangkum dari cerita yang berkembang. Otak kecilku mulai bekerja keras, sedikit bingung, dan memeras sedikit tenaga.  Bagaimana cara memulai suatu cerpen yang baik, suatu pertanyaan menghantui kepalaku. Sedang asyik-asyik melamunkan suatu cerpen aku dikejutkan dari belakang. 

Hoi!, serta merta satu tepukan di pundakku mendarat setengah keras kurasa. Suara itu sangat mengagetkan ku.
Aku menoleh ke belakangku! 
Sesosok gemuk dengan senyumnya yang khas melambaikan tangan kepadaku.  
Ia berlalu begitu saja, seperti tak terjadi apa-apa. 
Ku ikuti langkahnya dengan pandangan heran dan bertanya. Siapa gerangan dia. Dimana aku kenal dia? dan berbagai pertanyaan muncul di benakku tentang si gemuk tadi.  

Aku heran, orang ini kok sepertinya sudah kenal lama denganku. Sejak pertama kali jumpa ia selalu melempar senyum kepadaku. Aku tak mengerti, tapi aku berusaha selalu membalas senyumnya, walau setengah ku paksakan. Aku nggak enak kalau tidak membalas senyum seseorang. Bukankah dengan membalas senyum seseorang kita telah melakukan suatu ibadah. Tapi bagaimana dengan senyum yang setengah dipaksanak? Ah, agaknya aku telah berbuat salah kepada si gemuk tadi. Tapi dia kan tidak tahu, begitu batinku berucap. 

Sepulang dari kampus, masih dalam setengah bingung, ku buka buku pelajaran yang pernah ada. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia waktu di SMA, kalau tidak salah ada pembahasan mengenai cara menulis cerpen yang baik. Lembar-lembar demi lembar kertas telah ku balik satu persatu. Begitu banyak peraturan untuk membuat suatu cerpen, mulai dari judul, membuat kerangka karangan, harus menggunakan bahasa Indonesia yang sesuai dengan EYD lain sebagainya. 

Pikiran ku mulai mumet, tak karuan, kutinggalkan buku catatan, ku ambil sebatang rokok dan mulai menyalakannya. Kunikmati sepenuh hati isapan demi isapan rokok, sementara pikiranku terus melayang mengikuti arah kepulan asap yang dibawa angin. Kepulan asap dari rokok seakan meringankan pikiranku. Baru setengah batang rokok djisamsoe habis ku isap, azan ashar dari mushalla dekat rumahku terdengar jelas di telingaku. 

Segera ku matikan rokok dan bergegas pergi ke Mushalla untuk menunaikan shalat ashar berjama'ah. Rokok djisamsoe yang tinggal setengah batang, ku letakkan di atas meja kesayanganku. Sebuah meja hasil karyaku sendiri, tempat aku menghabiskan waktu di malam hari kalau lagi susah tidur atau kalau aku ingin mencoret-mencoret buku yang isinya tentang keinginanku. Tentang keinginanku menjadi seorang penulis, yang sampai sekarang belum satupun cerpen aku hasilkan. Tentang keinginanku menjadi terkenal dengan menciptakan banyak puisi. Semuanya sampai saat ini, alhamdulillah belum pernah terkabul. Hanya secarik dua carik kertas yang ada bekas coretan yang tak jadi, baik itu berupa catatan kecil maupun sebait dua bait puisi. Tapi kalau aku kumpulkan mungkin sudah tebal dan bisa dibuatkan sebuah buku. Tapi itulah aku, selalu menganggap apa yang aku hasilkan tidak akan bermanfaat dan jelek menurut penilaianku maka banyak yang terbuang setelah aku berhasil membuat dan membacanya.       

Aku bukanlah seorang muslim yang taat. Tapi belakangan ini, aku berusaha untuk berbuat bagi diriku sendiri. Seperti shalat berjama'ah yang akan segera kulakukan ini. Bukan apa-apa, kalau aku shalat sendirian di rumah, aku sering lupa. Shalat ashar yang seharusnya empat rakaat bisa kulakukan lima rakaat, karena terlalu banyaknya syetan dan iblis yang ada dalam diriku. Ada-ada saja ulahnya, supaya aku melakukan salah dalam shalatku. Sudah tak terhitung lagi berapa kali aku melakukan kesalahan dalam shalatku. Semua gara-gara si iblis laknatullah. Pantas sekali dia menjadi penghuni neraka jahanam karena selalu menggoda iman orang yang ingin berbuat kebajikan. Selalu berusaha untuk membuat orang memutus silaturahmi, membuat seorang anak agar durhaka kepada orang tuanya. Pokoknya iblis adalah suatu makhluk yang jelas-jelas sudah menjadi musuh yang nyata bagi manusia didunia, demikian salah satu ayat al-qur'an menerangkan yang aku sendiri tak tahu apa surat dan ayatnya. Karena aku bukan penghapal al-qur'an, cuma tahu sedikit dari ceramah ustadz yang pernah ku dengar lewat pengajian di Mushalla dekat rumahku. 

Setelah melaksanakan shalat ashar, pikiranku kembali jernih. Perlahan senja menyambut malam. Ku kubur sejenak cerpen ku yang belum usai. Ku langkahkan kaki menuju pantai dengan perlahan. Semilir angin darat  terasa sejukkan hatiku. Kunikmati pemadangan laut senja di bibir pantai sendirian. Aku duduk di bongkahan batu yang agak besar, memandang jauh kedepan, ombak laut seakan ejar mengejar menyambut sang malam dengan gembira. Kupandangi perahu nelayan yang tengah melaut. Di sekelilingnya ada cahaya terang yang terpancar dari lampu yang sengaja dipasang untuk memancing ikan-ikan supaya keluar dari persembunyiannya. Ada beberapa perahu nelayan yang mulai turun melaut bersama riak-riak ombak yang mengantar mereka menuju laut lepas. Sementara keluarga yang ditinggalkan menunggu dengan cemas dan penuh harap sambil berdo'a pada Sang Illahi agar perjalanan mereka diberkahi.

Pergilah kau wahai sang kekasih, 
Arungilah samudera, 
Bentangkanlah layar agar mengembang, 
Penuhilah panggilan garis nasib, 
Ikhlaslah dalam berjuang 
Kami menunggumu, 
Harap dan cemas ini telah kami luapkan pada Sang Pencipta 
  
Senja yang indah, warna matahari kuning keemasan mengintip di balik awan. Sebentar lagi azan maghrib berkumandang memanggil jiwa-jiwa bening untuk menunaikan shalat maghrib. Selesai shalat maghrib di Mushalla yang ada di dekat pantai, kulangkahkan kaki menuju rumah untuk merenda hari-hari yang semakin tertinggal. Semoga hari esok lebih baik dari hari ini. Amin       
    
Selanjutnya »