Sabtu, 12 Oktober 2019

Badut Bapakku





Puisi satir atau puisi sindiran, boleh disimak seperti puisi di bawah ini punya saya. Semoga bermanfaat, salam bahagia. 

BADUT BAPAKKU

Koarku terkapar di lantai kehormatan
Tertusuk tunjuk
Terluka dadaku
Terluka dadamu

Masih terkapar aku
Memandang badut yang tak lucu
Meludahi wajah bapakku
Bapakku tak lagi punya kehormatan

Badut tak lucu itu kini terhormat
Dari badut bapakku
Berperut buncit
Berkata sekenanya tak beretika
Tak berperih

Badut tak lucu
Dengan kostum bintang fantasi
Menghibur kanak-kanak
Menghibur bapakku dan badutnya

Lama-lama dekat bapak
Aku bisa terpapar
Badut bapakku
Itu sungguh tak lucu


SAD, 280518



Selanjutnya »

Jumat, 11 Oktober 2019

Surat Kepada Calon Selingkuh




Kali ini saya coba buat (belajar) sebuah puisi mbeling. Apakah itu puisi mbeling?


Puisi mbeling adalah bentuk puisi yang tidak mengikuti aturan. Aturan puisi yang dimaksud ialah ketentuan-ketentuan yang umum berlaku dalam puisi. Puisi ini muncul pertama kali dalam majalah Aktuil yang menyediakan lembar khusus untuk menampung sajak, dan oleh pengasuhnya yaitu Remy Silado, lembar tersebut diberi nama "Puisi Mbeling".


Kata-kata dalam puisi mbeling tidak perlu dipilih-pilih lagi. Dasar puisi mbeling adalah main-main. Ciri-ciri puisi mbeling Mengutamakan unsur kelakar; pengarang memanfaatkan semua unsur puisi berupa bunyi, rima, irama, pilihan kata dan tipografi untuk mencapai efek kelakar tanpa ada maksud lain yang disembunyikan (tersirat). (http://sejarahpahami.blogspot.com

Coba simak puisi dibawah ini, apakah sudah mbeling belum ya. Bacalah, semoga bermanfaat, salam bahagia.

SURAT KEPADA CALON SELINGKUH

Kepada nona
Yang bertahta di lubuk hayal

Duhai nona tetangga
Yang punya rona body seksi
Juling lihat mataku
Setiap kali genit parfummu  
Singgahi pesek hidungku seakan belang  

Sekarang aku wajib
Memakai kacamata kuda
Yang kupungut dari Mushalla tua
Untuk lebih fokus memandang
Dan yakin bahwa istriku
Cantik dan manis lebih darimu

Tertanda
Kacamata kuda

CA, 210619


Selanjutnya »

Kamis, 10 Oktober 2019

Pemilu dan Harapan yang Tak Pernah Sampai




Puisi di bawah ini terinspirasi dari Pemilu 2019 yang banyak timpangnya ketimbang jujurnya. Selamat membaca, semoga bermanfaat. Salam bahagia.  
  

PEMILU DAN HARAPAN YANG TAK PERNAH SAMPAI

Iklan, baliho, dan wajah-wajah cerah dalam poster
Berdandan, bersolek dalam berbagai pose
Di jalan-jalan besar, persimpangan perkotaan
Di ujung-ujung gang RT dan RW
Terpampang wajah-wajah calon menteri
Di pagar-pagar rumah,
Di pohon-pohon kayu menempel wajah
Calon-calon anggota DPR, DPD, DPRD
Hingga wajah calon presiden dan wakil presiden
Berbaris rapi masuk perkampungan
Dengan misi dan visinya menarik simpati massa 

Tak ketinggalan bendera-bendera partai
Warna-warni menghiasi janji
Yang dipercantik tukang jahit dan tukang sablon
Uang berputar akal diputar

Saat pencoblosan tiba
Wajah-wajah begitu merdeka
Tersenyum asyik masuk ke bilik
Dibenaknya terbayang Indonesia lima tahun mendatang
Bergambar orang-orang cerdas pengambil keputusan
Membangun bangsa memajukan peradaban

Demikian pun aku merdeka tentu
Di bilik pencoblosan, anak-anakku,
Bergelantungan di ujung paku yang runcing
Disangkanya barang mainan atau seluncuran
Tak perduli ia bapaknya memajang kecemasan
Bersama istriku, kami telah sepakat
“Kita harus memilih pemimpin yang jujur, amanah
Menjalankan undang-undang dengan baik dan benar
Agar Indonesia lebih maju, berwibawa di mata dunia
Anak-anak bersekolah tanpa terkendala biaya dan zona”

Bismillah, yakin aku Tuhan akan ada perubahan   

Lima lubang paku tuntaslah niat hati
lengkung senyum ikhlasku lirik sana sini
Melangkah keluar bilik lepaskan sesak dada
Tiba-tiba langit gelap di kepala
Daun-daun bergoyang kencang
Hujan membadai meniupkan kabar pilu
Tujuh ratus nyawa penyelenggara pemilu
Mengambang tanpa ucapan belasungkawa
Tanpa uang duka
Hilangnya rasa luka kehilangan orang tercinta 

Katanya pesta demokrasi
Tapi kenapa banyak yang mati

Sungguh aku tak paham

Pemilu itu mencari pemimpin sejati, katanya
Tapi rasa empatinya mana
Pemilu itu rahasia, katanya
Tapi kenapa sampai mengerahkan kelengkapan negara
Pemilu itu bebas memilih, katanya 
Tapi kenapa ada pengarahan sedemikian rupa
Pemilu itu berdasarkan keadilan, katanya 
Tapi yang melanggar tetap dibiarkan
Pemilu itu berazaskan kejujuran, katanya
Yang berbuat curang, toh lolos juga

Inikah yang disebut persengkongkolan politik
Saling mencekik
Saling menjegal
Sampai ada yang dijadikan tumbal  

Kalau persengkokolan hanya untuk meraih kekuasaan
Pemimpin sejati hanya ada di selokan
Kalau persengkokolan hanya menunjukkan siapa aku siapa kamu
Untuk apa kita merdeka dan bernegara


Pekanbaru, 090719



Selanjutnya »