Sabtu, 13 Oktober 2012

Sahabat Sejati



SAHABAT SEJATI

Sebagai manusia setiap orang pasti mempunyai sahabat. Anak kecil sahabatnya anak kecil, orang dewasa sahabatnya orang dewasa, dan para lansia sahabatnya bisa siapa saja. Dalam kehidupan bermasyarakat kita selalu ingin mempunyai seorang, dua orang lebih sahabat. Kata pepatah “Kalau kita mempunyai sahabat seribu orang dunia akan terasa lapang, tetapi mempunyai seorang musuh dunia akan terasa sempit”. Mengapa demikian? Kalau kita mempunyai sahabat kita bebas kemana saja tidak ada orang yang mengganggu, sedangkan mempunyai seorang musuh saja, kita kalau mau keluar akan merasa was-was “jangan-jangan dia ada disana”. Nah pertemuan kita kali ini akan membahas tentang sahabat.

Kita mulai dari pengertian dari kata sahabat dulu. S = siapa, A = akan, H = hadir, A = atau, B = bicara, A = atau, T = terima. Artinya, sahabat adalah siapa yang akan hadir berbicara atau menerima/mendengarkan pembicaraan. Betul nggak sih, kalau kita bersahabat dengan orang lain maka sewaktu teman kita bicara maka kita akan mendengarkan, dan kalau kita yang bicara maka siteman tadi yang akan mendengarkan. Demikian persahabatan yang harus dijalin agar selalu langgeng persahabatannya. Tetapi kalau sama-sama ngomong dan tidak mau mengalah maka akan terjadi pertengkaran atau kesalahpahaman. Ini tidak baik untuk sebuah persahabatan.


Ngomong-ngomong dunia persahabatan, ternyata ada banyak kriteria dari persahabatan tersebut. Mari mulai dari :

  1. Sahabat Pena. Suatu persahabatan yang terjalin karena pena, eh karena berawal dari surat menyurat atau korespondensi. Artinya kita menjalin persahabatan dengan teman yang sama sekali tidak mengetahui dimana ia berada. Kita hanya tahu berdasarkan apa ia ceritakan kepada kita.
  2. Sahabat Sewarung. Sahabat yang terjadi ketika berinteraksi dengan masyarakat lewat sebuah warung. Warung ini banyak pula macamnya, ada warung kopi, warung/kedai tuak, warung remang-remang dan sebagainya. Pertemanan terjalin hanya sebatas di warung saja. Apa yang dibicarakan atau dilakukan tidak akan bersfat permanen, atau hanya sekedar celoteh selama kita berada diwarung saja. 
  3. Sahabat Seperguruan. Ini terjadi karena kita sama-sama menuntut ilmu dari orang yang sama. Sahabat seperti ini terkadang akan muncul suatu persaingan yang tidak sehat, tetapi juga bisa menjadi suatu persahabatan yang sangat erat. 
  4. Sahabat Internetan. Nah inilah sekarang yang paling digemari banyak anak-anak sekarang. Terjadinya sahabat melalaui internet ini mencakup semua elemen  mulai dari remaja, orang dewasa, musisi, politikus, dan sebagainya. Dan yang paling menyenangkan adalah kita bisa bersahabat dengan siapa saja di seluruh Negara di dunia tanpa memandang agama, suku, bahasa. Kita bisa mendengar suara dan bertatap muka dengan orang yang kita hubungi lewat internet tadi. Persahabatan ini biasanya melalui suatu media di internet seperti facebook dan twitter. Kalau kita memiliki sebuah account facebook, atau twitter maka kita bisa terhubung dengan teman kita kapan saja kita mau. Kita bisa bermain sesuai dengan kesepakatan kita dengan teman facebook kita walaupun dia sangat jauh dari kita.

Dan masih banyak lagi pengertian sahabat lainnya. Misalnya sahabat sepermainan, sahabat sepondok, sahabat seperjuangan, majalah sahabat (hehehe) ini mah nama sebuah majalah anak-anak. Dari sekian banyak sahabat, berhati-hatilah dalam memilih sahabat, karena “sahabat mencerminkan siapa dirimu”.
Sebaik-baik teman adalah teman sejati. Sahabat yang mau menerima kita apa adanya, mau berbagi dengan ikhlas, mau mendengarkan keluh kesah kita, begitu juga dengan dia terhadap kita dalam artian yang positif. Mau tahu dengan sahabat sejati dan dimana kita bisa menemukannya.

Teman sejati memang sulit dicari apalagi di zaman sekarang ini, dimana semua orang sibuk dengan urusannya masin-masing. Tapi bukan tidak ada teman sejati. Untuk mencarinya, saya sarankan anda pergi kemasjid lalu shalat, atau bangun tengah malam dan lakukan shalat malam, maka dengan sendirinya anda akan tahu apa itu arti dari sahabat sejati. Nah lo, selamat merenungkannya, semoga bermanfaat. Jangan dilihat orang yang berkata, tetapi ambillah pelajaran yang baik dari dia, dan buang yang tidak bermanfaat. Wassalam

Baca juga : Lampu Teplok Hingga Token

Selanjutnya »

Catatan Ramadhan 1433 H


Selamat berjumpa lagi sob. Semoga hari-hari sobat sekalian bahagia dan selalu dalam lindungan-Nya. Pada postingan kali ini saya ingin berbagai pengalaman yang saya alami selama bulan Ramadhan 1433 H kemarin. 

Ramadhan adalah bulan penuh hikmah. Bulan yang didalamnya terdapat bulan yang lebih baik dari 1000 bulan (Lailatul Qadr). Semua orang ingin berjumpa dengan malam lalilatul qadr. Saya tidak membicarakan masalah malam Lailatul Qadr, tapi saya ingin mencatat kejadian-kejadian yang saya alami, lihat dan dengar selama bulan Ramadhan 1433 H, kemudian saya tulis berupa puisi. Ini sebenarnya adalah kegiatan kami selama bulan Ramadhan di Kampung WR (Writing Revolution), yaitu acara ngabuburit menjelang berbuka.  

Selamat membaca!
Jangan melihat siapa yang menulis, tapi lihat hasil tulisannya.
Ambil manfaatnya, buang yang tidak berguna 

2 Ramadhan (Puisi 1)
Marhaban ya Ramadhan 

Gemerincing tasbihmu telah mendayu
Memanggil jiwa yang repih layu 
Bersaranglah engkau padaku
Sebelas bulan aku menunggu
Siramilah kalbuku dengan embun rahmatmu
Marbahan ya Ramadhan 
Bersamamu aku ingin berkelindan

*3 Ramadhan (Puisi 2)
Alhamdulillah Ramadhan berkah
Rasa haus sirna sudah
Tenggorokan jadi basah 
Pandangan mata kembali indah
Saat berbuka waktu dinanti raga berseri 
Akanan ruah mengharap pahala illahi rabbi

*4 Ramadhan (Puisi 3)
Hari ini panas mengelillingi raga
Tak terasa 4 hari puasa 
Seonggok letih mulai terasa 
Cepat waktu berlalu 
Pun ibadah ini mengharap ridha-Mu

*5 Ramadhan (Puisi 4)
Membiarkan dahaga ini pertanda 
Melingkarlah letih disetiap sendi raga
Petang kan menjelang pulang
Zikirmu memanggil lantang 
Ini baru permulaan sayang
Ingatlah kita sedang memerangi diri 
Untuk menjadi muslim sejati 

* 10 Ramadhan (Puisi 5)
Saat sirine bersahutan 
Ku teguk dua gelas air putih atas sahur yang tidur 
Alhamdulillah aku duduk 
Tetaplah tawadu'

* 11 Ramadhan (Puisi 6)
Astaghfirullah ya Allah 
Ada setitik noda atas puasaku hari ini 
Noktah disebabkan mata tak terpelihara 
Ramadhan-Mu tercela 
Maafkan hamba Illahi Rabbi

* 13 Ramadhan (Puisi 7)
tak banyak yang bisa kuceritakan kini 
perih melilit,
lapar menggelar panas 
aku terbakar
ya Rabb!
muliakanlah aku dengan sikap sabar  


* 14 Ramadhan (Puisi 8)
(Kecelakaan di Jl. H. Raya)

Darah itu mengalir dari kepalanya
tak hirau akan sekitar carut marut membahana
dia berceloteh tentang sakitnya
kepada siapa?

orang-orang ada yang singgah; sekedar melihat
yang sinis berlalu tanpa beban; biasa kecelakaan!
kerumunan itu perlahan bubar
dua orang pemuda datang menggotong perempuan yang terluka
sebuah oplet tua membawanya
siapa yang menabraknya?
aku hilang ditengah carut marut panas memanggang
bertanyapun suaraku hilang

* 17 Ramadhan (Puisi 9) 
Ya Rabb.... Ampuni hamba-Mu
yang lalai di amuk amarah
hamba berusaha istiqamah
mesti di puncak jengah

 *18 Ramadhan (Puisi 10)  
Senja dalam kerinduan menyanyikan suara hati 
temaram di kala letih menyapa
sebentar lagi azan maghrib mendera perbukaan 
aku masih saja bersetubuh dengan waktu
membawanya ke alam mimpi menggebu

letih, kuyu, berbalut sendu 
ku hamparkan dalam tasbih kelu
seketika aku menyebut asma-Mu
senja makin memerah
gerombolan gembala menggiring ternaknya pulang
sekawanan itik berceloteh tentang perutnya yang sudah kenyang
ku reguk secangkir teh membalut kerongkongan kerontang 
alhamulillah usai sudah kisah ku hari ini
mengucap syukur pada illahi

senja menggiring pulang
ku kayuh langkah meninggalkan hari
untuk esok bersua lagi dengan ramadhan yang penuh berkah ini 

* 19 Ramadhan (Puisi 11)
(Jakarta Terbakar)

Gulita malam sontak memerah saga
Asap membubung ke angkasa dengan congkaknya
Api lahap merayap tiap jengkal tiang-tiang penyangga
Rumah-rumah rubuh tiarap ke bumi
Tinggalkan bara arang sisa-sisa rerentuhan  
Tangis para bocah pecah kabarkan berita duka

Tidak ada yang menyangka
Bencana datang melanda

Baru saja kemarin bermimpi menyambut hari nan fitri
Kini di bawah  tenda-tenda plastik mengais harap
Menanti uluran tangan sang dermawan
Sekedar makan penyambung puasa ramadhan
Ya Rabb
Kuatkan iman kami dengan ujian ini

* 21 Ramadhan (Puisi 11)

hakikat pedagang mencari jati diri 
mengarungi bahtera menjalin petualang
menyinggahi lapak-lapak tak bertuan 
menyemai angkuh bertitah bak tuan raja 

Di belokan terakhir katup-katup langit telah membuka 
memuarakan tasbih, tahlil, dan tahmid kepada sang pencipta 
lalu dimana zikir pedagang tersangkut? 
akankah jadi mantra tak berkesudahan, mengambang 
sementara hati terus diburu nafsu dunia
atau hanya jadi ocehan pelepas dahaga tak bermakna 
dan hilang di telan kepulan asap rokok tak membekas 
menghisap angin?

ooo alangkah rugi sang pedagang 
barang habis terjual rugi yang datang 
begitu nian sorak tercekat 
di dermaga penantian panjang menjulang 
jejak yang tinggal tergerus ombak tadi siang

katup-katup langit kian menganga  
menanti tangan-tangan ikhlas pendo'a menggapainya 
memeluknya di pelataran surga 
berkelindan di malam-malam akhir ramadhan 
menuruni lembah-lembah hati yang beriman
sang pedagang tersungkur di ufuk pagi   
ditubir jurang mengharap ridha illahi  

* 25 Ramadhan (Puisi 12)
hati yang tinggal sekeping luka yang lainnya tertatih menyingkap
tabir gerimis zikirku tak jua bisa menautkannya 
saling berebut singgasana 

kejap kemarin kulihat pelangi senja mulai merapat di sela koyak 
bisa kuraba sebentar hening itu
merinai seketika khusyukku dalam doa 
di bilik-bilik sunyi malam rapalan tasbihku menggetarkan jiwa 
tangisku pecah mengenang dosa 

ketika siang meludahi malam 
kepingan luka itu kembali menggurat dunia fana 

ya rabbi aku bersimpuh dihadapan-Mu 
menangkupkan tangan di altar asry-Mu
mengadukan hati yang repih
yang terpanggang oleh kemunafikan zaman 

* 26 Ramadhan (Puisi 13)
sebentar lagi kita akan tiba di penghujung waktu
benarkah? 
bukankah masih panjang perjalanan

benar!
aku, kau dan kalian pernah dalam satu perkemahan
yang didalamnya di suguhi makanan enak, tidur nyenyak, tempat bermain yang mengasikan kalbu
seharusnya kita melenggang untuk jalan-jalan berikutnya
menepis setiap jengkal kutu-kutu yang menghalangi penghambaan diri

mengapa?
coba kau ingat apa saja yang engkau bawa setelah perkemahan usai
penuhkah dadamu dengan zikir sebagai benteng di luar sana
atau hanya jadi pepesan kosong setelah berbaur dengan liuk-liuk genit kehidupan dan kembali terperosok   
sudah sampai dimana kita?
di awal yang menggebu-gebu
semakin ketengah semakin membenam larutkan Asmaul Husna 
atau malah takut ketengah yang pada akhirnya kembali ke awal malu-malu  

* 27 Ramadhan (Puisi 14)
Kereta itu akan segera pergi. 
diikuti gerbong, berpenumpang mungkin juga kosong gosong.
bukan tergesa-gesa tapi sudah sepatutnya.
lengking besinya mulai berbisik mengukur jarak
meninggalkan bangku-bangku tua, sebuah bangunan

Engkau bertanya padaku.
kemana kita akan dibawanya? 
di tanganmu terselip tiket entah apa  
akupun berkata, "sudah tahun keberapa?"
yang aku ingat;
bangku-bangku itu masih baru berwarna suci 
besi penyangganya kokoh 
tidak seperti sekarang warna tidak jelas, berkarat sekarat  
jawabmu!
kita pun saling diam
memandang ke langit, mata menyipit
kereta itu terus berputar mengitar 
sebentar ke Sidratul Muntaha untuk kembali 

aku, kau masih di sini
memegang tiket
duduk bungkuk di bangku-bangku tua, sebuah bangunan  

Pekanbaru, 1433 H/2012 M

Baca juga : Lampu Teplok Hingga Token

Selanjutnya »

Jumat, 12 Oktober 2012

Inggit, Tehnya Pahit


Bung Karno: Inggit, Tehnya Pahit
Walentina Waluyanti – Belanda

Soekarno muda baru saja menyelesaikan kuliahnya. Gelar insinyur kini telah diraihnya. Ini artinya, ia tidak lagi menerima bantuan keuangan dari orangtuanya. Dan sekarang ia sedang bingung. Diteguknya teh suguhan Inggit. Segelas teh pahit. Toples gula di dapur sudah kosong. Dapurnya sedang kering kerontang. Istrinya, Inggit hanya mampu menyuguhkan teh encer tanpa gula buat tamu-tamu yang datang.
Sebetulnya Bung Karno sudah mendapat tawaran untuk kedudukan menarik di Departemen Pekerjaan Umum. Tapi sudah saatnya para pemuda menolak bekerja sama dengan pemerintah. Begitu pikir Bung Karno. Menurutnya, bekerja sama dengan pemerintah bisa memasung kebebasan berpikir dan bertindak.
Walau begitu, toh Bung Karno tetap butuh uang, untuk membuat dapurnya kembali berasap. Dan untuk mendapatkan uang, tentu saja ia harus bekerja. Untunglah ada lowongan di sekolah Yayasan Ksatriaan, yang dipimpin oleh Ernest Douwes Dekker, masih kerabat Multatuli, seorang tokoh kebangkitan nasional berdarah Indo. Douwes Dekker atau Setia Budi, juga dikenal sebagai tokoh “tiga serangkai” bersama Dr. Tjipto Mangunkusumo dan Ki Hajar Dewantara. Sebagai catatan, sekolah Ksatriaan ini sekarang dikenal dengan nama SMP Negeri 1 Bandung. Jurnalis kawakan dan pejuang BM Diah pernah bersekolah di sekolah ini.
Douwes Dekker bertanya pada Bung Karno, “Anda bisa mengajar, kan?”. Bung Karno dengan agak tersinggung, tentu saja mengiyakan. Namun dasar Bung Karno. Kepribadiannya memang ekspresif, meledak-ledak, penuh semangat. Terlebih jika itu sudah menyangkut nasib bangsanya.
Ia menyadari, pelajaran sejarah seharusnya memaparkan fakta. Tapi “dendam-kesumatnya” terhadap imperialisme, tak bisa membuatnya jernih berpikir, kapan saatnya harus berbicara sebagai “guru” dan kapan saatnya bicara sebagai “pejuang revolusi”. Dan itulah yang dilakukannya ketika memberi pelajaran sejarah di hari itu. Bung Karno masih ingat, salah seorang murid di kelasnya itu adalah Anwar Tjokroaminoto, adik Oetari istri pertamanya.
Di hadapan anak-anak dan penilik sekolah (orang Belanda), yang sedang menilai caranya mengajar, ia terseret emosinya pada saat memberi pelajaran sejarah itu. Dengan bakatnya sebagai orator, berapi-api dikritiknya imperialisme. Menggelegar, sampai terlompat-lompat dikutuknya kolonialisme dengan segala sistemnya. Akibatnya bisa diduga. Kontan, penilik sekolah orang Belanda itu mengajukan pemecatan Bung Karno sebagai guru. Kata penilik sekolah itu, “Raden Sukarno, tuan bukan guru, tuan seorang pembicara”.
Namun ada yang lebih menarik dari sekedar ilustrasi kejadian di atas. Saya tertarik menggarisbawahi pendapat Bung Karno tentang pelajaran sejarah di sekolah. Mungkin pendapat Bung Karno di bawah ini adalah jawaban atas pertanyaan, mengapa sekarang ini pelajaran sejarah umumnya kurang menarik perhatian para siswa. Menurut Bung Karno, dalam pelajaran sejarah seharusnya tidak sekedar sibuk dengan urusan nama, tahun, dan kejadian.
Dalam pelajaran sejarah, menurut Bung Karno yang penting adalah mengerti latar belakang sebuah kejadian sejarah. Bukan sekedar menghafal nama, tahun, dan kejadian. Kata Bung Karno selanjutnya:
“Aku memberikan alasan mengapa ini dan itu terjadi. Aku memperlihatkan peristiwa-peristiwa sejarah secara sandiwara. Aku tidak memberikan pengetahuan secara dingin dan kronologis. Ooo tidak, Sukarno tidak memberikan hal semacam itu. Itu tidak bisa diharapkan dari seorang orator yang berbakat dari lahirnya. Aku mengayunkan tanganku dan mencobakannya. Kalau aku bercerita tentang Sun Yat Sen, aku betul-betul berteriak dan memukul meja.” (Buku “Soekarno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”).
Bisa saya bayangkan, bagaimana mengasyikkannya pelajaran sejarah, jika yang berdiri di depan kelas itu adalah “Meneer Sukarno”. Sebagai guru, pelajaran sejarah itu diberikannya seperti seorang aktor yang memainkan lakonnya. Ini kira-kira sama dengan seorang dalang yang bisa membawa pendengarnya ke suasana kisah, sehingga pendengar tetap terpaku untuk terus menyimak.
Saya kurang tahu bagaimana metode pengajaran sejarah sekarang ini di sekolah-sekolah di Indonesia. Saya tumbuh di Indonesia dalam generasi yang fasilitasnya belum se-modern generasi sekarang. Namun begitu, teman-teman sebaya sekelas saya di bangku sekolah dasar tidak perlu juara kelas pun, bisa dipastikan akan lancar menjawab pertanyaan, “Bangsa mana saja yang pernah menjajah Indonesia?”. Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris, Jepang. Bukankah ini pengetahuan dasar yang sudah otomatis diketahui anak-anak Indonesia, setidaknya generasi saya?
Budaya dan agama asing mana yang mempengaruhi Indonesia? Budha, Hindu dari pengaruh Cina dan India. Islam dari Arab. Katolik/Protestan dari pengaruh Portugis, Spanyol, Belanda. Akulturasi antara animisme penduduk asli dengan berbagai budaya dan agama pendatang, membuat Indonesia masa kini sudah sulit diklaim budayanya 100% asli. (Belum terhitung ekspansi perekonomian dan budaya dari negara-negara lain yang tak tersebut di atas, serta efek globalisme yang semakin mengubah wajah Indonesia).
Hal di atas saya sebut pengetahuan dasar, terlebih karena pengetahuan itu memang sudah menjadi pertanyaan klasik yang kerap menjadi bagian dari ulangan umum di sekolah.
Walau anak-anak itu hafal banyak kejadian sejarah di luar kepala, tapi tanpa mengerti mengapa semua itu harus mereka ketahui, maka sejarah hanya menjadi pelajaran “mati”.
Rendra pernah dikritik cendekiawan muda dalam debat tentang kejadian sejarah. “Ah, sudahlah Mas. Buat apa sejarah itu? Itu kan nostalgia dan romantisme saja”. Komentar itu malah membuat Rendra berbalik heran. Para intelektual muda yang kelak akan mengambil alih masa depan bangsa, lha kok malah mempunyai cara berpikir seperti itu? Bagaimana orang bisa memahami masa kini, bisa membuat perencanaan untuk masa depan, jika tidak belajar dan memahami masa lalu?
Meneropong sejarah ibarat proses merekonstruksi puzzle kejadian. Sebuah kejadian tidak akan mungkin berdiri sendiri. Semua itu adalah rangkaian yang berkaitan satu sama lain. Dalam merekonstruksi ini, peminat sejarah dituntut agar mampu berpikir logis, obyektif, analitis, rasional, untuk bisa mem-verifikasi sebuah paparan fakta. Kemampuan dasar berpikir ilmiah ini, akan membuat sebuah bangsa bisa tahan banting di tengah persaingan.
Bukan sekedar pemanis bibir jika Cicero, filsuf Romawi mengatakan “Historia est Magistra Vitae” atau sejarah adalah guru kehidupan. Seorang guru sejarah yang baik akan mampu merangsang keingintahuan untuk memasuki banyak penjelajahan. Tidak saja tentang sejarah itu sendiri. Tapi jika sejarah itu didalami, maka orang akan terbawa pada sebuah dunia yang lebih luas. Misalnya mengenal nilai kehidupan melalui para pelaku sejarahnya (dari “wong cilik” sampai orang besar), mengenal karakter manusia, menghargai perbedaan kultur dan agama. Juga membangkitkan nasionalisme, mengenal tata sosial, politik, ekonomi dan pemerintahan.
Mempelajari sejarah juga bisa mengilhami usaha preventif sekaligus refleksi, agar sebuah kejadian traumatis tak terulang, atau malah sebagai usaha pelestarian keteladanan agar bisa dicontoh. Ini semua menyitimulasi timbulnya sikap saling pengertian dan kearifan dalam hidup bermasyarakat.
Sejalan dengan Bung Karno, Rendra pernah beropini sudah saatnya sistem belajar sejarah di sekolah itu diubah. Tidak hanya sekedar menghafalkan dan mendengarkan. Apa gunanya menghafalkan siapa itu La Galigo dan siapa itu Machiavelli, tanpa memahami mengapa nama mereka mesti dihafalkan? Bukankah jauh lebih menarik mendalami dan membandingkan pikiran antara keduanya? La Galigo penulis sastra dari Sulawesi Selatan, hidup sebelum abad ke-14. La Galigo yang pujangga Bugis, hidup kira-kira hampir satu jaman dengan Machiavelli, ahli politik dari Italia.
Dibanding ahli politik Eropa tadi, justru konsep tentang DEMOKRASI telah lebih dahulu dikenal melalui konsep La Galigo, yang hidup di masa kejayaan kerajaan tertua di Sulawesi Selatan, yaitu kerajaan Luwuk. Manuskrip asli La Galigo sampai saat ini tersimpan di Leiden, Belanda. Tulisan La Galigo ini setebal 6000 halaman, ditulis dalam huruf lontara, aksara yang biasa digunakan suku Bugis, Makassar, Luwu di Sulawesi Selatan. Epik La Galigo disebut-sebut sebagai epik terpanjang di dunia.
La Galigo mencatat bahwa yang tertinggi dalam kekuasaan yaitu adat (hukum), sedangkan penguasa itu hanya pelaksana hukum. Hukum/adat ini menyebabkan seorang anak raja tidak otomatis menjadi raja. Dan memang sistem demokrasi itulah yang diterapkan kerajaan Luwuk di Sulawesi Selatan sejak sebelum abad ke-14. Bandingkan dengan ajaran Machiavelli (di antaranya diterapkan Napoleon), bahwa kekuasaan itu mesti dipertahankan dengan menggunakan dana dan senjata, yang mirip dengan prinsip kediktatoran.
Oh ya, kembali lagi ke topik tentang sekolah Ksatriaan di Bandung tadi. Yaitu sekolah pimpinan Douwes Dekker, tempat Sukarno gagal dan dipecat oleh Belanda menjadi guru. Setelah menjadi presiden RI, Sukarno tidak melupakan jasa Douwes Dekker sebagai salah satu tokoh peletak dasar kebangsaan. Douwes Dekker sempat menjadi menteri dalam kabinet Syahrir, anggota DPA, dan sejarawan di bawah kementerian penerangan. Juga salah seorang anggota delegasi dalam bernegosiasi dengan Belanda. Douwes Dekker juga sempat tinggal serumah dengan Bung Karno.
Sampai akhir hayatnya, Douwes Dekker dipandang oleh Belanda sebagai “pengkhianat”. Karena ia berjuang untuk Indonesia, dan sempat diciduk dan ditahan Belanda tahun 1948. Ia dibebaskan ketika kesehatannya semakin memburuk di penjara dan meninggal tahun 1950. Ia dimakamkan di TMP Cikutra Bandung. Di bawah ini telegram “ucapan selamat ultah” dari Bung Karno pada Douwes Dekker, yang menunjukkan perhatian Bung Karno pada eks “bos”-nya di sekolah Ksatriaan di Bandung, tempat Sukarno pernah mengajar.
Sebagai pimpinan yayasan, dulu Douwes Dekker tidak bisa berbuat apa-apa ketika Bung Karno yang diterimanya sebagai guru di sekolahnya, dipecat oleh pemerintah Belanda. Namun Sukarno tidak lupa ucapannya, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya”. Ungkapan Bung Karno yang lain sampai kini tetap dikenang generasi sekarang, yaitu “jas merah” (jangan sekali-sekali melupakan sejarah).
Dan Sukarno memang tidak lupa sejarah, tentang bagaimana jahatnya imperialisme yang telah ratusan tahun menghisap darah rakyat Indonesia. Mengutip kata Willem Oltmans, seorang jurnalis Belanda sahabat Bung Karno.
“Sukarno mati-matian gigih menolak usaha masuknya investor melalui dollar dan yen mereka. Karena ini sama saja mengembalikan imperialisme masa lalu dalam bajunya yang lain. Sedangkan Suharto berbuat sebaliknya. Yaitu Suharto memenuhi keinginan Washington, CIA dan Tokyo.”
Ya, kebanggaan rakyat Indonesia pada gelar Soeharto, masih segar di ingatan, yaitu “Bapak Pembangunan”, tampaknya harus dibayar dengan sangat mahal. Ironisnya, ternyata itu masih diperparah oleh manipulasi, sehingga investasi dan utang luar negeri itu jatuh ke kantong yang tidak semestinya. Yang jelas, tentu bukan kantong rakyat kecil.
Alih-alih menikmati uang pinjaman itu. Pembayaran utang tadi justru dibebankan ke pundak rakyat, yang sebagian besar masih kembang kempis mengatasi kemiskinan. Utang itu hingga kini menjadi belitan tiada akhir, dan yang kena dampaknya adalah rakyat kecil. Yang kaya semakin kaya. Yang miskin, semakin miskin.
Pelajaran sejarah masa lalu tampaknya masih diabaikan. Imperialisme ternyata kembali lagi dengan gaya baru, yang menaklukkan dengan utang mencekik. Sang pemberi utang secara terang-terangan di depan mata, menjarah harta Indonesia yang ada di bawah tanah. Dengan “jasa” mereka melalui investasi dan utang yang ditanamkan di bumi Indonesia, adakah yang masih bisa berkutik? Apa boleh buat.

Baca juga : Lampu Teplok Hingga Token 


Walentina Waluyanti – Nederland
*) Dirangkum dari berbagai sumber

Selanjutnya »

Rabu, 10 Oktober 2012

Lampu Teplok Hingga Token Listrik


Walau masa itu sudah lama berlalu, namun masih jelas dalam ingatanku. Di bawah sinar lampu teplok aku, kakak dan dua orang adikku, belajar bersama sambil tengkurap. Kala itu listrik belum masuk ke desa kami. Bila malam menjelang, maka lampu strongkeng adalah andalan kami sekeluarga, di tambah lampu teplok. Di bawah sinar lampu teplok inilah kami beradik kakak berusaha meraih mimpi sebagai pelajar kala itu. Menonton TV hanya seminggu sekali. Itupun numpang ke rumah tetangga. Seiring berjalan waktu, perlahan namun pasti listrik masuk ke desa kami. Desa kami menjadi terang, keluarga dan warga di desa kami menjadi senang. Tidak lama setelah adanya listrik di rumah kami, ibu membeli sebuah TV. Dengan sendirinya kami bisa mendapat informasi baik dari dalam negeri maupun informasi dari luar melalui berita yang ditayangkan di TV. Semua berkat PLN sebagai satu-satunya perusahaan yang menggawangi listrik nasional.

Masih teringat olehku saat itu daya di rumah kami adalah 450 va. Sebuah daya standar kala itu untuk rumah tangga. Tahun-tahun berikutnya PLN menaikkan daya 900 va sampai akhirnya menjadi 1300 va. Semua itu didasarkan pada kebutuhan pemakaian listrik yang terus meningkat di masyarakat. Semakin berkembangnya peradaban manusia dan teknologi yang semakin canggih PLN terus berbenah diri. Ini bisa dilihat dengan produk keluaran baru PLN yaitu listrik pra bayar atau yang lebih popluer di masyarakat pulsa listrik nama lain dari token listrik. Apapun namanya saya lebih suka menyebutnya dengan token, lebih singkat dan mudah diingat.


Berbagai tanggapan lahir di masyarakat saat peluncuran produk token listrik. Ada yang bilang lebih boros dan ada juga yang bilang lebih hemat. Penasaran dengan token listrik saya berusaha mencari informasinya, untuk apa sebenarnya token listrik dihadirkan ke masyarakat?.


Ternyata token listrik adalah produk mutakhir dari PLN. Cara kerjanya hampir sama dengan pulsa. Semakin banyak kita menelpon otomatis banyak pula pulsa yang dipakai, kalau penggunaan telpon seperlunya maka pulsanya bisa lebih hemat. Semua dipulangkan kepada pelanggan sendiri. Berdasarkan falsafah demikian, maka diharapkan masyarakat dapat menghemat pemakaian listriknya sendiri. Pembelian pulsanya mulai dari 20.000, 30000, 40000, 50000 sampai seterusnya sesuai kemampuan keuangan pelanggan. Hal lain yang bisa kita lihat dari token listrik adalah tidak ada lagi pelanggan yang menunggak pembayaran listriknya sampai berbulan-bulan. Suatu teroboson moral yang patut di puji ditengah-tengah kehidupan yang serba sulit seperti sekarang ini.


Dilihat dari perjalanan PLN selama ini, jelas sudah mengalami banyak kemajuan. Itu saya simpulkan dari yang saya alami sendiri. Saat saya sekeluarga menggunakan lampu teplok hingga keluarnya produk mutakhir PLN yaitu listrik prabayar. Itu adalah kemajuan yang sangat pesat menurut saya. Menjelang usianya yang ke 67, PLN dengan upayanya membangun listrik untuk rakyat telah banyak berkiprah di bumi nusantara ini. Mulai dari memberikan beasiswa kepada siswa yang berprestasi, memberikan bantuan kredit untuk UKM, menciptakan lapangan pekerjaan dan lain sebagainya. Semua di lakukan PLN  demi Negara Indonesia tercinta dan bentuk pengabdiannya untuk rakyat. 


Terlepas dari itu semua, tentu ada kelemahan dan kekurangan dibalik prestasi yang telah diraih PLN. Hal itu bisa kita lihat dari adanya desa-desa terpencil atau pulau-pulau dekat perbatasan yang belum menikmati aliran listrik sama sekali. Kenaikan tarif dasar listrik yang banyak menuai pro dan kontra. Masih adanya pencurian arus listrik. Listrik mati mendadak yang bisa menyebabkan alat elektronik semisal TV, kulkas, dan alat elektronik lainnya rusak. Disamping itu ada juga kebakaran yang disebabkan oleh arus pendek listrik.


Sebagai warga negara Indonesia yang sudah tentu menjadi pelanggan PLN saya berharap perhatikan juga saudara saya yang belum merasakan aliran listrik dirumahnya. Mereka juga punya mimpi dan cita-cita untuk membangun negeri ini. Sama seperti saya yang dulu pernah belajar di bawah sinar lampu teplok sangat mendambakan kehadiran listrik. Hal ini dapat kita temui pada Warga Kecamatan Pulau Laut  Kabupaten Natuna Kepulauan Riau yang sudah tiga tahun tidak menikmati aliran listrik. Ini salah satu contoh dari sekian banyak contoh lainnya. 


Mengenai kenaikan tarif dasar listrik, sebaiknya PLN mempertimbangkannya dengan sangat matang. Karena kenaikan TDL (Tarif Dasar Listrik) ini sangat besar dampaknya bagi sektor yang lain. Di bidang perdagangan misalnya, dengan naiknya TDL otomatis biaya produksi juga naik. Ini bisa berimbas kepada pemutusan kerja pada karyawan yang pada akhirnya pengangguran bertambah.


Kemudian hal yang harus disadari PLN adalah mengenai token listrik yang berbasis pada teknologi. Kita semua tahu teknologi setiap waktu selalu mengalami perkembangan. Seperti halnya listrik pasca bayar, token tentu mempunyai kelemahan. Kalau pada listrik pra bayar, pada stand meterannya akan terlihat berapa besar arus yang kita pakai. Sedangkan pada token listrik ada itemnya total KWH. Misalnya seseorang membeli token listrik seharga Rp. 20.000, dengan total KWH : 75,05. Karena bisa dimainkan maka total KWHnya di rubah menjadi 80,00 dengan harga Rp. 23.000. Kalau ini terjadi yang menderita kerugian adalah PLN sendiri. Untuk menghindari hal yang demikian, tentunya PLN sudah memikirkannya sebelum produk token listrik diluncurkan ke tengah masyarakat. Dalam hal ini saya sebagai rakyat Indonesia hanya mengingatkan supaya PLN tetap bersih dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.



Sumber : 
http://www.pln.co.id/ntb/?p=108
http://www.pab-indonesia.com/kepri-time.html?start=15
Selanjutnya »

Senin, 01 Oktober 2012

Merawat Komputer


Hallo sobat, apa kabarmu hari ini. Sudah lama ya kita nggak ketemu. Semoga baik-baik saja dan selalu dalam limpahan keberkahan-Nya, aamiin. Kali ini saya ingin bercerita tentang perawatan kompi (komputer) yang saya alami sendiri. Baru-baru ini saya menginstal ulang kompi. Sebelum menginstal saya non aktifkan dulu defreez nya, kemudian saya restart. Setelah di restart windowsnya tak muncul-muncul. Lama menunggu akhirnya kompi (komputer) saya matikan dan saya tidak tahu apakah defreeznya sudah non aktif atau belum.

Pertama saya bersihkan PC dari debu yang melekat. Wah ternyata debunya banyak minta ampuun. Setelah bersih, Saya hidupkan kembali kompi, masih sama (windowsnya tidak muncul). Hati mulai bertanya-tanya, ada apa gerangan.




Ahh, mungkin kena virus. jadi langsung saya install ulang saja, tanpa ba bi bu. Dalam menginstal ternyata filenya ada yang tidak bisa di copy, tapi pantang mundur saya teruskan menginstal. Alhasil, install windows sukses tak sempurna, lanjut install office sukses, begitupun dengan aplikasi lainnya. Nah pas mau memasukkan ip adrees, my network place kosong kalau di klik dan kompi dengan sempurna tidak nyambung ke internet. Wah masalah baru muncul. 

Saya lihat device manager ternyata banyak warna kuning bertanda serunya. Untuk anda yang belum kenal dengan device manager mari saya kenalkan, caranya : 

-      
Klik kanan my komputer pada desktop
-   
Pillih properties

Muncul tab system properties
-
Klik tab hadware
-
Klik device manager

Pada tab ini, kalau ada file-file yang kurang biasanya akan ditandai dengan warna kuning bertanda seru.

Untuk melengkapinya saya update dengan memasukkan cd driver yang diperlukan. 
caranya : 

-      
Klik kanan icon yang ada tanda serunya
-   
Pilih update driver

Sukses, tinggal adapter controller. Saya update seperti tadi. Jalan updatenya, tapi setelah lama menunggu tidak ada tanda-tanda mau selesai. Tidak ada juga perintah untuk mengganti cd atau men-cancelnya. Saya tunggu 1 jam lebih tidak ada juga ada hasil. Alhasil saya bosan, putuskan saja hubungan dengan kompi hehee kayak orang pacaran. 

Masih penasaran, saya cabut lan cardnya, kemudian memindahkan ke kompi tetangga. Ternyata pada kompi tetangga koneksi lancar dan aman. Kesimpulan lancardnya masih bagus. Lalu mengapa……….

Saya pasang lagi dan ulang install. Kali ini menggunakan cd kawan sekaligus guru saya (dia yang mengenalkan saya dengan kompi dan cara menginstal secara tidak langsung) hasil tetap sama alias nihil. Saya benar-benar bosan bercampur marah juga pasrah tapi tak rela. 
Saya diamkan beberapa hari, biar tahu rasa kompinya. Meranalah engkau dan aku menanggung rindu huhu tak bisa ol. 
Setelah bertapa beberapa hari, dengan kekuatan baru saya buka kembali kompi. Setengah yakin, Saya cek kabel beberapa bagian, lalu saya pasang kembali termasuk lancardnya.  Eee tak disangka tak dinyana langsung meluncur dengan mulus. Bertemu kembali dengan mbah google alias koneksinya langsung nyambung. Itu ceritaku mana ceritamu. 


Kesimpulan :

Untuk saudaraku yang suka otak atik komputer, kalau ada kendala jangan cepat menyerah. Usahakan dulu semaksimal kemampuan yang ada sebelum jasa servis diperlukan.
Demikian, semoga bermanfaat. 


Selanjutnya »

Sabtu, 04 Agustus 2012

Belajar Menulis Puisi


Hai sahabatku sekalian, pada postingan kali ini saya ingin bercerita tentang menulis puisi. Puisi lahir dari perasaan jiwa atau "Puisi adalah bahasa jiwa", ini menurut saya sob. Mengapa saya sebut demikian, karena menurut saya puisi itu lahir dari apa yang kita lihat, dengar, rasakan, dari pengalaman pribadi yang dituangkan menurut imajinasi dan melahirkan kata-kata indah yang lahir dari dalam jiwa seseorang. 

Dibawah ini ada beberapa puisi yang saya buat sendiri. 

Hening 

Hening yang selalu dinanti
Dalam terang maupun kelam
hening yang merenung tentang diri, alam,
mencurahkan dalam kisah keseharian

Hening
Tempat yang damai untuk
menumpahkan segala rasa
Menjadi sejuk,
begitu nyaman

Tak terasa bulir air mata menetes
mengingat kekerdilan diri dihadapan-Mu
sang khalik pencipta alam mayapada
Di atas sajadah ini,
ku ingin mengurai dosa pada-Mu
Izinkan hamba penuh dosa ini memanggil-Mu

Malam ini........
Terimalah sembah sujud hamba
Bisikkan pada malam-Mu
ada hamba yang rindu pada malam hening-Mu
Untuk menyembah kebesaran-Mu, amin


Lembah Damai & Dalam Dekapan Cinta-Nya (JIPN), Juni 2012

Puisi ini pernah dilombakan dengan tema "Dalam Dekapan Cinta-Nya" yang diselenggarakan oleh JIPN. Dari ratusan peserta alhamdulillah puisi saya belum masuk kategori. Namun saya tetap bangga sob. Sebagai penulis pemula dan baru mengikuti lomba ada perasaan senang yang mengalir dalam diri. Puisi saya yang selama ini terbuang entah kemana sekurang-kurangnya telah dibaca oleh Panitia Lomba hehee. 

Saya menyadari puisi saya belumlah sempurna masih banyak cacatnya. Dengan ikutan lomba saya bisa mengambil pelajaran dan mengetahui sampai dimana kemampuan saya dalam hal menulis puisi sambil memompa semangat untuk menulis puisi dan mengikuti lomba lagi sampai menang. 

Harus optimis, selalu itu yang senior bilang kepada saya. Sebab keberhasilan tidak akan tercapai tanpa ada niat yang baik, kerja keras dan selalu berdo'a pada Sang Khalik alam semesta. Segalanya berawal dari nol. Tidak ada yang langsung besar. 

Kenangan Lama
Oleh : Fuad Adi vs Niva Yasmin

Melukis harap dalam kanvas angin,
Membelai cemas dalam kerinduan panjang.
Denting gitarmu membelai,
Jiwa terpasung, angan melambung,
Akankah semua sama disana.

Meneguk purnama menghiasi sang malam,
Berburu kerelaan dalam keikhlasan.
Pucuk-pucuk cemara bermandikan cahaya,
Embun menawarkan sejuta sejuknya,

Melafaskan arus mimpi diri,
Dalam ladang harap terucap.
Zikirnya menguak mega-mega.
Datanglah sebelum sesal menghujat, mengabur.

Menadah kehilangan arah kompas,
Serpihan purba sulam menyulam
Tafakur di liang perih duka,
Memunggah sejarah kenangan lama.

Nah puisi ini adalah kolaborasi saya dengan Niva Yasmin, seorang sahabat yang sama-sama sedang membangun kerajaan puisi masing-masing. Puisi ini belum pernah di publikasikan, mudah-mudahan saja kalau dia membaca puisi ini tidak marah kepada saya.

Di sini saya ingin mengatakan bahwa dalam hal menciptakan puisi tidak mesti sendiri, tapi bisa juga kerjasama dengan orang lain. Saat ini kami berdua tergabung dalam sebuah wadah yang diberi nama Writing Revolution (WR) Pimpinan Joni Lis Efendi. Sebuah wadah yang secara online di alam maya untuk melahirkan penulis-penulis handal.

Jika ada pembaca yang mengerti tentang dunia kepenulisan nyasar ke blog ini tolong diberi masukannya bagaimana menulis puisi yang baik, dan puisi ini dimana letak kelemahannya, mohon koreksinya. Selebihnya semoga Sang Maha Penyayang memberi pahala kepada saudara, amin. 

Nah untuk sahabatku yang senang dengan puisi atau senang menulis cerpen dan masih mencari sandaran berpijak, lebih baik anda bergabung bersama kami. Karena di sini semua tersedia sob, mulai dari konsultasi puisi, lomba puisi dan cerpen. Selanjutnya bagaimana kita memanfaatkan fasilitas yang dengan sebaik-baiknya.

Demikian, semoga bermanfaat.    

Selanjutnya »

Rabu, 25 Juli 2012

Mari Menulis




Menulis adalah perbuatan yang mulia. Dengan menulis kita bebas mengekpresikan diri kita lewat tulisan. Menulis tidak mengenal bawahan, atasan bahkan kata pensiun. Menulislah tentang apa saja, asal jangan engkau jadikan kepandaian menulis mengenai hal-hal yang tidak berguna, misal menulis yang berbau porno. Itu hanya akan membawamu ke jalan yang tidak benar. Tidak saja merugikan diri sipenulis tetapi juga akan membuat si pembaca berdosa.

Beberapa manfaat dari menulis :

1.
2.
3.
4. 
Membuka alam pikiran, ide-ide  
Menambah wawasan
Meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan
Dsb

Dengan menulis hari anda akan lebih bermanfaat. Menulis yang paling sederhana adalah menulis di buku diary. Eit tunggu dulu!, jangan sepelekan diary. Dari menulis diary seseorang bisa menjadi penulis terkenal. Kok bisa? Seseorang yang terbiasa menulis di diary, maka lama kelamaan tulisannya terkumpul. Bentuk tulisan dalam diary ini bisa berupa puisi atau cerpen. Tinggal dikirim ke koran-koran atau majalah. Kalau beruntung puisi atau cerpenmu dimuat, namamu akan dilihat di seantero dunia dan kamu dapat honor (tulisanmu menjadi duit).

Macam-macam penulisan
Berikut ini adalah beberapa dari bentuk penulisan :

1.
2.
3.
 
Opini  
Cerpen / Puisi
Buku


Menulis Opini
Opini adalah pendapat seseorang tentang sesuatu masalah yang sedang hangat dibicarakan dimasyarakat. Opini yang bagus disertai dengan argumen dan deskripsi mengenai fakta yang sedang terjadi, digambarkan dengan jelas padat dan singkat.

Menulis Cerpen / Puisi
Kedua jenis tulisan ini sama-sama mengolah kata-kata. Seorang cerpenis yang sudah mahir bisa membuat pembacanya tidak bosan membaca tulisannya. Membuat sebuah cerpen atau puisi berhubungan dengan otak kanan. Kalau anda senang menulis berarti anda tengah melatih peranan otak kanan anda yang pada akhirnya melahirkan ide-ide cemerlang.

Demikian juga dengan menulis puisi. Puisi bisa lahir dari apa yang kita alami, kita lihat, dan apa yang kita rasakan. Seorang penulis puisi bagaikan kata-kata berjalan atau kamus kata-kata. Dia mempunyai kata-kata indah, segar dan enak didengar.

Menulis Buku
Dari semua bentuk penulisan, menulis bukulah yang paling sulit. Itu kesimpulan ane bro. Karena menulis sebuah buku diperlukan ide-ide kreatif,  disamping daftar kepustakaan, juga bahasa yang digunakan agar sipembaca kelak tidak bosan membacanya. Tapi disinilah tantangannya. Seorang yang sudah biasa menulis cerpen atau novel misalnya, akan tertantang untuk menerbitkan sebuah buku. Buku adalah tolak ukur kepiawaian seorang penulis. Karena seorang penulis akan ditanya sudah berapa buku yang diterbitkan oleh tangan ajaibnya, bukan berapa kali ia sudah memenangi lomba tulis-menulis.

Nah saudaraku yang masih awam seperti diriku yuk mulai menulis, menjangkau cakrawala, menuangkan ide-idemu dengan merdeka, moga menjadi ibadah.

Salam, semoga bermanfaat.
  
Selanjutnya »