Jumat, 06 Mei 2016

Puisi Kelomang dan Rakyat Jelata


Kelomang atau umang-umang adalah salah satu jenis hewan yang tak bisa dipisahkan dengan suasana laut. Tubuh mereka yang lunak memaksa mereka terus mencari rumah. Walau berpindah-pindah rumah, tapi mereka akan selalu berumah yang dekat dengan pantai dan laut. 

Hidup mereka sederhana saja, ada rumah, pasir, dan laut. Rumah mereka juga tidak perlu mewah, asalkan cocok untuk melindungi tubuh ya sudah itu saja. Kok kehidupan kelomang mirip dengan nelayan ya. Tahu nelayankan? itu yang kerja melaut. Penduduk Indonesia juga lo. Awas jangan sampai tidak kenal dengan nelayan. Nenek moyang kita pelaut. Pelaut ya nelayan. Tapi nasib mereka, aduh.... simak ajalah puisi di bawah ini, moga bermanfaat.  
  
Kelomang dan Rakyat Jelata
Oleh : Fuadi

300 keluarga kelomang dipaksa meninggalkan rumah
Bukan karena ingin berganti
Tapi karena ombak ambisi
Hidup mereka menjadi sansai

Kelomang tak bisa telanjang
Ia harus punya rumah
Untuk melindungi diri yang lemah
Atau dari amukan kawan yang serakah

Sejak negeri ini memulai sejarah
Kelomang hidup di tanah kepunyaan Tuannya 
Tapi mereka bukan parasit 
Yang menggigit majikannya sampai mati

Kelomang tahu diri
Cukup air laut, pasir dan sekadar makanan bergizi
Untuk melanjutkan perjalanan hari ini
Adalah anugerah terindah yang selalu disyukuri

Di dada mereka merah-putih selalu membahana
Di jiwa mereka melekat Pancasila

Tapi sekarang mereka dibuang
Sama dengan rakyat jelata di negeri ini
Hidup menumpuk di perahu
Terdampar lapar menggelapar-gelepar
Ulah penguasa tak mempelajari sejarah
Ulah penguasa tak amanah
Tak tahu berterima kasih


Bingkai Hati, 230416
Selanjutnya »

Kamis, 05 Mei 2016

Puisi Tentang Feses Atau Taik


Nah selamat bertemu kembali, semoga saudaraku semua selalu dalam lindungan Allah SWT, aamiin. Pertemuan kali ini kita akan membahas tentang feses atau taik. Feses adalah hasil dari proses dari makanan yang kita makan melalui proses yang lumayaaan panjang. 

Tempat keluar kotoran (feses/taik) itu dinamakan dubur atau anus. Nah kalau ada feses/taik keluar selain dari anus atau dubur berarti itu sudah sangat salah tempat.  Atau sedang mengalami gangguan. Saya yakin dan percaya kamu sekalian masih mengeluarkannya dari dubur atau anuskan. 

Jangan dikeluarkan dari tempat lain ya, apalagi sampai keluarnya dari mulut, iiiih jiijiknya. Di bawah ini sekelumit puisi tentang feses atau taik. Silahkan disimak, semoga bermanfaat.       

FESES ATAU TAIK
Oleh : Fuadi

Ia diproses melalui cara mekanik dan kimiawi
Dari mulut melewati faring menuju esofagus
Dipijit-pijit, diremas-remas sampai ke lambung
Bagian kardiak lalu fundus dan pilorus

Diaduk-aduk dengan bantuan getah lambung dari
Kelenjar fundus
Ia pun berbentuk bubur kim kini
Ia siap dipindah ke usus halus duodenum, jejunum serta ileum

Tak sampai di situ saja
Ia harus melewati jalanan sepanjang lebih kurang satu meter
Saluran dinding sempit penuh tonjolan
Yang kemudian ia sadari namanya usus besar

Di sini ia harus berteman dengan E.Coli
Agar ia berparas sesuai yang diinginkan
Menghindari bakteri patogen
Agar tidak berwatak keras kepala

Hmm, perjalanan panjang ini
Diakhiri dengan sempurna lewat anus
Orang kita bilang itu dubur 
Ingat ya!, lewat anus
Nah, hasil pembuangan itu orang bio menyebutnya feses
Sementara orang awam mengatakan itu taik

Tapi tadi pagi,
Di mulutmu keluar taik
Banyak taik

Aku jadi heran
Apakah tidak bisa membedakan
Ooo, kali zaman makin edan


Bingkai Hati, 170416
Selanjutnya »

Rabu, 04 Mei 2016

Puisi Mengurai Ingin

Ilustrasi dari www.satujam.com

Rumah sangatlah berarti bagi sebuah keluarga. Baik itu orang kaya maupun orang miskin. Semua orang tentu mempunyai keinginan punya rumah sendiri walau sederhana. Setidaknya dengan adanya rumah tidak akan kena gusur atau disuruh pindah. 

Lalu bagaimanakah rumah yang baik itu bagi sebuah keluarga? Tentu masing-masing orang mempunyai persepsi sendiri. Bagaimana dengan anda? yuuuk disimak aja puisi di bawah ini. Moga bermanfaat. 

Mengurai Ingin
Oleh : Fuadi

Suatu waktu aku ingin punya
Sebuah rumah sederhana
Punya kamar tiga
Satu dekat dapur, kamar sejajar dua

Ruang tengah merangkap
Ruang tamu dan ruang keluarga 
Tanpa meja kursi tak apa
Tamu datang tikar digelar

Di sisi sebelah kiri rumah
Tempat jemuran kain
Untuk jenis pakaian dan celana tak seberapa
Keluarga punya

Sisi rumah sebelah kanan
Masih ada sisa lahan
Untuk istriku menanam sayuran
Penambah-nambah kalau kekurangan

Di depan rumah halaman ada
Cukup untuk tumbuh satu pohon saja
Aku dan keluarga suka mangga
Jika berbuah saatnya berbagi dengan tetangga

Halaman rumah pagarnya tak ada
Di bawah batang mangga
Aku buat kursi melingkar
Tempat berteduh kala panas menggelegar

Ohya, rumahku dekat Mushalla
Supaya keluarga dekat dengan Pencipta
Kalau dapat aku imamnya
Kalau tidak jadi makmum saja

Bingkai Hati, 230416







Selanjutnya »

Puisi Kartini Sejati


Puisi di bawah ini adalah puisi dalam rangka memperingati Hari Kartini yang jatuh setiap tanggal 21 April. Selamat menikmati, semoga bermanfaat. 

KARTINI SEJATI
Oleh : Fuadi

Dalam suratnya, Kartini
Sangat mengharapkan pendidikan layak untuk para perempuan
Karena perempuan adalah ibu guru teladan bagi anak-anaknya
Ibu yang bercita-cita besar, melahirkan pemimpin-pemimpin besar
Itu

Kita kenal Jenderal Sudirman sang panglima besar berkata
“Tentara tidak boleh menjadi alat suatu golongan atau siapapun juga. Tentara hanya mempunyai kewajiban mempertahankan kedaulatan negara dan menjaga keselamatannya...”

Mungkin kita tidak tahu Siyem, yang telah melahirkannya.

Adalagi Bung Hatta,
Sang proklamator yang sampai akhir hayatnya tidak mampu membeli sepatu 
Sepatu Bally kesayangannya
Karena besar perhatiannya kepada bangsa
Ia adalah putra Siti Saleha

Kisah polisi jujur Imam Hoegeng Santoso
Dirumahkan sebelum masa tugas habis
Menolak bujukan menjadi duta besar
Sebab ia polisi tidak politisi 
Bahagianya Oemi Kalsoem mendengarnya 

Merekalah contoh dari kartini-kartini sejati
Dulu

Kini ada Yulianti
Ibu dari Musa
Umur baru 6 tahunan
Mengharumkan Indonesia di mata dunia
Hafidz termuda dengan nilai istimewa
Mendengarnya, sungguh kamipun bangga

Dimasa-masa akan datang
Moga lebih banyak lagi kartini
Yang sanggup merombak peradaban
Di tengah-tengah moral yang kian tipis
Dan fitnah merajalela


Alam Mayang, 210416
Selanjutnya »

Senin, 25 April 2016

Puisi Taufiq Ismail Tentang PKI


Waspada dengan kebangkitan PKI baru di Indonesia. Dalam cacatan sejarah setidaknya PKI telah melakukan pembrontakan dua kali yaitu tahun 1948 dan peristiwa G30SPKI tahun 1965. Menurut yang yang lain setidaknya tiga kali yaitu tahun 1927, 1948 dan 1965.

Taufiq Ismail dipaksa berhenti saat membacakan puisi di hadapan peserta Simposium Nasional Tragedi 1965 di Hotel Aryaduta, Jakarta, Senin (18/4). Pujangga sepuh ini dianggap memprovokasi peserta simposium dengan bait puisi mengenai rezim komunis yang kejam, begitu juga dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Berikut petikan puisi Taufiq Ismail:

Dua orang cucuku, bertanya tentang angka-angka
Datuk-datuk, aku mau bertanya tentang angka-angka
Kata Aidan, cucuku laki-laki
Aku juga, aku juga, kata Rania cucuku yang perempuan
Aku juga mau bertanya tentang angka-angka

Rupanya mereka pernah membaca bukuku tentang angka-angka dan ini agak mengherankan
Karena mestinya mereka bertanya tentang puisi
Tetapi baiklah,
Rupanya mereka di sekolahnya di SMA ada tugas menulis makalah
Mengenai puisi, dia sudah banyak bertanya ini itu, sering berdiskusi
Sekarang Aidan dan Rania datang dengan ide mereka menulis makalah tentang angka-angka

Begini datuk,
Katanya ada partai di dunia itu membantai 120 juta orang, selama 74 tahun di 75 negara
Kemudian kata Aida dan Rania, ya..ya..120 juta orang yang dibantai
Setiap hari mereka membantai 4500 orang selama 74 tahun di 75 negara

Kemudian cucuku bertanya
Datuk-datuk, kok ada orang begitu ganas..?

Kemudian dia bertanya lagi,
kenapa itu datuk? Mengapa begitu banyak?

Mereka melakukan kerja paksa, merebut kekuasaan di suatu negara
Kerja paksa
Kemudian orang-orang di bangsanya sendiri berjatuhan mati
Kerja paksa

Kemudian yang ke dua
Sesudah kerja paksa,
Program ekonomi diseluruh negara komunis tidak ada satupun yang berhasil
Mati kelaparan, bergelimpangan di jalan-jalan

Kemudian yang ketiga,
Sebab jatuhnya Puisi ini

Sebabnya adalah mereka membantai bangsanya sendiri, 
Mereka membantai bangsanya sendiri
Di Indonesia
Pertamakali di bawa oleh Musso, di bawa Musso. 
Di Madiun mereka mendengarkan pembantaian


Bagaimana pendapat anda?


Simposium nasional bertajuk 'Membedah Tragedi 1965, Pendekatan Kesejarahan' diadakan oleh Pemerintah Jokowi melalui Dewan Pertimbangan Presiden dan Kantor Koordinator Politik Hukum dan Keamanan di Hotel Aryaduta, Jakarta, Senin (18/4/2016).

Sebelum G30S, Taufiq Ismail memang dikenal benci dengan PKI. Ia sempat menggagas Manifes Kebudayaan untuk menandingi seniman/sastrawan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Lekra merupakan organisasi kebudayaan sayap kiri di Indonesia. Lekra didirikan atas inisiatif D.N. Aidit, Nyoto, M.S. Ashar, dan A.S. Dharta pada tanggal 17 Agustus 1950.
Selanjutnya »

Minggu, 20 Maret 2016

Tips Sederhana Menghilangkan Kecanduan Rokok

Selamat jumpa lagi! Kalian tahu apa itu rokok? Ini dia versi penulis.

Rokok

Repihan tembakau
Menjadi satu dalam lintingan kertas
Berfilter ataupun tidak
Berbaur menyimpan racun
Dan kita mengisapnya
Menikmatinya, uhuk, uhuk  
Membuang masa
Tak terasa menyiksa raga

Sampai kesadaran menyadarkan akal sehat
Mendapati diri terlaknat
Ooh Tuhan aku ingin sehat


Mau Sehat, 12-03-16

ilustrasi dari maricari.com 


Teringat waktu kecil antara kelas 5-6 SD. Waktu pertama kali merokok. Kalau mau merokok pergi ke tepi sungai atau tempat-tempat sepi yang tidak mungkin terlihat oleh kakak, atau orang yang kenal dengan kita. Karena kalau ketahuan sama kakak, atau orang yang kenal sama kita maka orang itu akan melapor kepada orang tua kita, lalu kena marah deh.

Beranjak remaja (SMP) kita bangga sama kawan-kawan yang lain bahwa kita sudah merokok. Mengepulkan asap rokok kadang berupa lingkaran-lingkaran kecil lalu membesar di tiup angin, rasanya asyiiik gitu. Tidak lelaki kalau tidak merokok, demikianlah motto waktu itu. Lelaki tidak merokok di bilang banci.

Waktu berlalu, merokok sudah menjadi hal biasa. Sehabis makan merokok, ngeteh atau ngopi nggak enak kalau tidak ada rokok. Ngumpul bareng merokok, dan kalau bikin acara lain-lain pasti yang namanya rokok tidak bisa ketinggalan kereta, harus ada.

Hal inilah yang membuat orang sulit keluar dari lingkaran rokok. Sebab kalau tidak kita yang menawari, maka kawan-kawan yang menawari rokok ke kita. Kadang setengah memaksa.

Tetapi kali ada tips sederhana yang bisa kita meninggalkan rokok. Mau tahu? Simak saja tulisan di bawah ini.  

-
Sayangilah orang tua demikian perintah dari Nabi Muhammad SAW dan juga firman dari Allah SWT.

Sebagai perokok jika anda belum siap untuk berhenti total karena sudah kecanduan cobalah untuk tidak merokok di dekat orang tuamu, baik bapak atau ibumu. Buktikan bahwa kamu menyayangi kedua orang tuamu dengan tidak memaksa mereka mengisap asap rokokmu ketika kamu merokok di dekat mereka. Cukup dirimu sendiri yang merasakan racunnya.


-
Hormatilah saudaramu

Jangan merokok di hadapan kakak, adik atau familimu.
Jangan biarkan mereka terpapar oleh asap rokokmu yang beracun. Karena merekalah orang yang akan menyelamatkamu ketika kamu sakit.


-
Sayangilah keluarga



Kalau kamu memang sayang pada anak dan istrimu, hindarkanlah merokok didekat mereka. Kalau kamu sedang merokok lalu tiba-tiba istri atau anakmu mendatangimu dan bercakap-cakap, segeralah buang rokok yang ada di tanganmu. Bukan karena takut, tapi membuktikan kamu mencintai dan menyayangi mereka.


-
Hargai teman yang tidak merokok

Jangan menjadi setan atau iblis. Artinya ketika kamu merokok dan tiba-tiba ada teman/kawan/sahabatmu mendekat, matikanlah rokokmu, jangan malah menawarkan rokok atau memaksa mereka untuk mengisap racun dari rokok pemberianmu. Hargai mereka yang tidak merokok.


-
Perhatikanlah orang-orang sekelilingmu

Ketika kamu naik angkot/bus kota, buanglah rokok yang ada di tanganmu. Jangan bawa ke dalam sebab kamu tidak tahu di dalam angkot/bus kota mungkin ada anak bayi, orang tua renta yang tidak sepantasnya menghirup racun asap rokokmu. Apalagi ibu hamil yang jelas-jelas tidak boleh terpapar asap rokok karena bisa berakibat yang tidak baik terhadap janin yang ada dalam rahimnya.
Hindarilah merokok di tempat umum.

Tanamkanlah dalam dirimu bahwa cukup kamu saja yang merasakan akibat dari racun rokokmu sendiri.

Demikian, moga bermanfaat
Selanjutnya »

Kamis, 20 Agustus 2015

Puisi Emak Telah Merdeka


Dirgahayu HUT RI yang ke-70. Mari kita pupuk rasa kebersamaan untuk membangun Indonesia yang lebih bermatabat. Sehingga kedepannya Indonesia menjadi salah satu negara maju. Dalam artian bisa mandiri, berdiri dengan kaki sendiri, sesuai dengan amanah UUD 1945. Hal ini bisa terjadi kalau keadilan sudah merata dirasakan oleh rakyat Indonesia. Sehingga tidak ada lagi diskriminasi sosial.

Merdeka artinya bebas dari rasa takut, bebas dari pengaruh asing, dan bebas berkarya dan mengeluarkan pendapat.   

…..

“Sekali merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih dikandung badan
Kita tetap setia tetap setia
Membela negara kita”

Demikian kutipan lagu “17 Agustus 1945

Lalu apa yang kita rasakan sekarang? Adalah pertanyaan yang selalu muncul saat kita merayakan hari kemerdekaan Indonesia yang kita cintai.

Di bawah ini sebuah puisi curahan hati saya, silahkan disimak. Moga bermanfaat.


Emak Telah Merdeka
Oleh : Fuadi

Inikah merdeka mak!
Mereka bekerja di negeri kita
Kembali makan tiwul

Atau merdeka itu
Masjid-masjid tak perlu ada mikrofon
Beribadah saja dalam senyap
Di panggung-panggung hiburan dentum musik mengirisiris gendang telinga
Melesapkan dada 

Merdeka katanya
Menyaksikan si udin
Di penjara berlipatlipat atas kesalahan tak berbukti
Sedang dia hampir setiap hari membakar oto
Masih bebas plonga plongo

Merdeka juga namanya
Malam ini kita tidur nyenyak bermimpi ditemani bidadari
Paginya tibatiba motor mogok sebab BBM naik lagi
Siang tersiar kabar seorang guru terkapar
Dadanya ditembus peluru sehabis pengajian
Syawal’15 dibuka bersama duka   
Tolikara membara mengurut dada toleransi

Merdeka pedih ya mak
Tapi sungguh aku ingin merdeka

Mak, mak, mengapa diam!
Sepotong ubi di genggamannya jatuh menimpa jempolku  
Bekas gigitannya tercetak jelas
Mak, mak, emaaak!

Emak telah merdeka
Matanya mengarah keluar jendela
Tampak merah putih berkibar malumalu
Senja berlalu, angin membisu



Bingkai Hati, 140815
Selanjutnya »

Selasa, 31 Maret 2015

Puisi Dongeng Plintat Plintut

Puisi di bawah adalah gambaran masyarakat kita sekarang, yang semakin hari semakin tak berdaya oleh semakin susahnya hidup. 

Selamat menikmati, semoga bermanfaat. 


DONGENG PLINTAT PLINTUT
Oleh : Fuadi 

Di kerajaan plintat plintut 
Tersebutlah seorang raja bergelar ingin 
Penebar surganya angin

Suatu hari 
Rakyatnya ingin angin 
Sang raja kentut, nyengir 
Orang-orang tutup hidung

Raja heran lalu kentut lagi 
Kali ini kentutnya mampir di knalpot 
Pengendara yang motornya zigzag
Ibu-ibu mencari dompetnya  yang 
Nyangkut dilaju besi makin nyaring
Terseret angkot ke pasar, swalayan dan pertokoan 
Rumah sakit menjadi ayan

Kentut kali ke tiga 
Orang-orang lagi tak berhidung
Mata mereka elang 
Hati dan lidah mereka api
Si pincang pandai berlari

Ramai-ramai mereka kentuti plintat plintut 
Tut tuut tuuuuut 
Rasakan itu kentut

Alam Mayang, 170115


Selanjutnya »

Minggu, 22 Maret 2015

PUISI DILEMA HUJAN BAGI KOTAKU

Banjir lagi banjir lagi. Kira-kira demikianlah keluh warga yang selalu kebanjiran ketika musim hujan datang. Hujan menjadi momok yang menakutkan, padahal Tuhan menurunkan hujan dengan berbagai berkah di dalamnya. 


Dulu sewaktu kecil, hujan sangat ditunggu, perasaan riang terpancar dari para bocah untuk mandi hujan. Tapi sekarang hujan masuk kamar ibu-bapak mereka. Menggenangi sekolah-sekolah mereka. Hujan telah menjadi dilema. Seperti puisi di bawah ini.  Silahkan dinikmati, semoga bermanfaat. 

DILEMA HUJAN BAGI KOTAKU 
Oleh : Fuadi   


Dulu, rinaimu mengundang senyum
Isyarat kelopak ‘kan tumbuh dan mengembang
Langkah-langkah ringan menapaki hari
Elok nian embun duduk di rumput-rumput dan keladi
Matahari pancarkan hangat setiap pagi
Alam berdendang, daun-daun bergoyang

Hingga saat itu pupus
Ulasan rinai mengiris-iris
Jangan kau tanya mengapa
Akan luka-luka menganga
Namanya dilema

Beton-beton menjarah hutan
Abaikan kelestarian
Garong senyum sungging sumbing negeri
Inilah sumpah sampah

Kotaku dialiri banjir setiap musim hujan datang
Orang-orang meradang mengerang berang
Tapi hujan hanyalah titah
Akibat pergeseran musim
Koarmu bencana
Ulah siapa, mengapa

Bingkai Hati, 171213
Selanjutnya »

Selasa, 10 Maret 2015

Mensyukuri Nikmat


Bersyukur

Hidup itu sangat indah dengan segala pernak perniknya, sengaja diciptakan oleh Allah Sang Maha Pencipta untuk manusia. Mengapa aku katakan demikian? Mari kita simak catatan seorang teman berikut ini. Seorang kawan telah bercerita kepadaku tentang apa yang dialaminya. Dia membuka usaha sebuah usaha dari modal pinjaman.
Dengan modal keberanian dan sedikit pengetahuan yang dimilikinya, ia bermaksud membuka usaha sebuah warnet yang dianggapnya bisa mengangkat perekonomian keluarganya. Dari sebuah kehidupan yang sederhana, ia ingin mengangkat derajat hidupnya ke arah yang lebih baik dari keadaan yang  sekarang. Bagaimana tidak dizaman, sekarang setiap orang sudah mempunyai kendaraan sendiri minimal sebuah sepeda motor, sedang ia tidak punya sama sekali jangankan sebuah sepeda motor, sepedapun ia tak punya.
Singkat cerita ia berhasil membuka usaha sebuah warnet dengan jumlah komputer Sembilan buah termasuk server. Satu bulan berjalan ia kena musibah. Warnetnya dimasuki maling dan berhasil membawa enam (6) buah monitor LCD. Total kerugiannya sekitar Delapan (8) Juta, sebuah angka yang besar kalau diukur dengan keadaan keluarganya yang sederhana. Hancur segala harap yang telah diimpikannya untuk membangun perekonomian keluarganya, belum lagi istrinya yang telah bekerja berhenti dari pekerjaan tiga hari sebelum warnetnya dimasuki maling. Terbayang olehnya utang yang harus dibayar per bulannya, biaya hidup sehari-hari, uang kontrakan, belum lagi biaya tak terduga. Dari mana harus didapatkan? Agaknya inilah akhir dari hidupnya dirantau orang. Terbayang kampung halaman nan jauh, akankah pulang kampung? Lalu apakah dengan pulang kampung segalanya akan teratasi? Segala macam pikiran berkecamuk dalam kepalanya. Seakan meledak kepalanya kalau terus dipikirkannya.
Sehari dua hari kejadian yang menimpanya masih sangat membekas dalam hari-harinya. Bagaimana tidak, dengan Sembilan komputer,  pendapatannya baru pas untuk sewa tempat, biaya sehari-sehari dan tagihan internet, sementara untuk mengangsur utang masih ditunda-tundanya. Sekarang dengan tiga komputer berapalah yang akan didapatnya. Tak dapat ia membayangkan nasibnya serta keluarga yang sangat ia cintai dimasa-masa sulit seperti ini. Terkubur sudah kedua kakinya di “Negeri Bertuah” ini, tergali sudah kuburan untuk dirinya sendiri karena malapetaka yang menimpanya, demikian ia berpikir.
Ditengah galau, gundah, resah, dan dendam seseorang telah diutus oleh Allah untuk menenangkan hatinya. Seorang Bapak yang kerjanya mengobati orang dengan jalan “rukiyah” tak sengaja datang pada hari tepat sesudah kejadian LCDnya dimaling orang. Bapak itu menyarankan untuk membaca Q.S Alwaki’ah, sebuah surat yang terdapat di dalam Al-Qur’an yang isinya untuk memudahkan usaha yang kita jalani, demikian Bapak itu berkata. Antara percaya dan tidak, setiap selesai shalat subuh ia berusaha menyempatkan diri untuk membaca Surat Al-Waki’ah. dia sadar dengan dirinya sebagai seorang muslim telah lama ia tidak membaca kitab sucinya. Apa salahnya memulai kembali membaca Al-Qur’an yang dimulai dengan Surat Al-Waki’ah pikirnya. Dia bukannya tak percaya dengan Al-Qur’an, hanya ia tak pernah mengkotak-kotakkan surat dalam Al-Qur’an dan memang dia tidak mempunyai pengetahuan tentang itu. Dia hanya tahu membaca untuk sekedar dirinya sendiri dan sebagai pedoman hidup bagi sekalian umat Islam yang dia sendiri sudah sangat lama tidak memperhatikan dan membacanya. Dengan datangnya Bapak tadi sedikit terbuka pikirannya tentang kewajiban membaca Al-Qur’an.    
Perlahan namun pasti kepercayaanya mulai muncul. Segala sesuatu telah diputuskan oleh Allah Sang Maha Pengatur. Manusia hanya berusaha tetapi semuanya tetap di tangan-Nya. Dia beranggapan bahwa komputer nya hilang ternyata ada hak sang maling didalamnya. Karena maling juga perlu mempertahankan hidupnya, ia butuh makan, pakaian dan sebagainya seperti orang lain, terlepas dari bagaimana cara dia untuk mendapatkan kebutuhannya. Semua usaha perlu pengorbanan, “barugi dulu mangkonyo ba balabo”, demikian pepatah minang mengatakan. Anggap saja semua yang telah berlaku kepadanya adalah rezeki yang tertunda yang suatu saat akan dikembalikan oleh Allah kepadanya, atau mungkin akan melebihi dari sebelumnya kalau itu dihitung dengan yang hilang ditambahkan dengan yang berjalan semestinya pikirnya.
Maka setiap pagi setelah shalat subuh dan membaca Al-Qur’an ia bersiap-siap untuk membuka kedai tempat dia menjalankan usahanya. Seminggu kira-kira waktu berjalan setelah ia kemalingan, pendapatannya sudah seperti semula sebelum komputernya dimaling orang. Sesuatu yang tidak pernah terbayangkan olehnya. Rasanya mustahil dengan tiga buah komputer ia akan mendapatkan rezeki sama dengan ketika ia mempunyai Sembilan komputer. Tapi itulah yang terjadi, sungguh Allah Maha Kaya, Allah sangat dekat orang-orang yang ditimpa musibah yang menerima dengan ikhlas. Kini ia percaya bahwa dibalik kesusahan ada kemudahan. Setiap kali selesai ia menghitung pendapatannya ia selalu mengucapkan Alhamdulillah yang ia ucapkan untuk memuji Allah Sang Maha Pemberi Rezeki. Disamping itu ia selalu berdo’a kepada Allah agar dilancarkan usahanya, agar dimudahkan urusannya.
Kepada para pembaca ia menyarankan agar selalu bersyukur dengan apa yang ada pada diri kita, jangan menganggap remeh apa yang dapat kita lakukan karena Allah akan selalu menghargai apa yang kita lakukan. Berusahalah dipagi hari, sesuai dengan firman Allah, “Setelah shalat subuh bertebaranlah kamu sekalian dimuka bumi, carilah nikmatku sebanyak-banyaknya………..”, demikian kira-kira arti dari sebuah ayat dalam Al-Qur’an. Penulis sendiri tidak tahu suratnya (tolong dikasih tahu bagi pembaca yang mengetahuinya), kemudian bersyukurlah seberapapun besarnya rezeki yang diberikan Allah kepada kita. Semoga bermanfaat, wassalam. Gambar diambil dari Voa-Islam.com  
     


Selanjutnya »

Kamis, 22 Januari 2015

Puisi Kartu Pelangi Yang Ternodai

Puisi di bawah ini berangkat dari beban hidup yang semakin berat. Meskipun telah berganti kebijakan-kebijakan yang katanya untuk orang miskin. 

Silahkan dibaca, moga bermanfaat. 

Kartu Pelangi Yang Ternodai 
Oleh : Fuadi

Kita diam tak bergerak
Menyaksikan antrian panjang
Dari subuh hingga petang
Kaki-kaki telanjang memamah tanya
Kapan embun datang menyejukkan dahaga

Yang tersaji hanyalah janji-janji melukai
Kartu-kartu bergambar pelangi
Indah dipandang tak sedap di hati
Kemana akan dibawa
Saat harga melambung tinggi

Aku cari kartu discount
Di langit buram
Di siang matahari memanggang
Di rumah-rumah kardus anak-anak meringkuk
Sebab rumah sakit telah sakit
Dokter-dokter jadi keder
Melihat obat-obatan kian belel   
Nyawa-nyawa ngeyel

Tuan tak bergeming
Mengeram hening
Padi mendongak jengah
Petak-petak sawah rekah


Alam Mayang, 24-11-14
Selanjutnya »

Rabu, 21 Januari 2015

Puisi Bulan Merindu

Puisi di bawah ini terinspirasi dari perselisihan paham antara anak dan orang tua. Sering kita baca atau dengar berita anak yang menggugat rumah tempat tinggal mereka yang berujung di pengadilan. 

Masih banyak kasus-kasus lain yang menyudutkan orang tua yang nota bene telah melahirkan, membesarkan dengan penuh kasih sayang. Menghalau rintangan besar dalam membesarkan anak kesayangan, tapi setelah mereka berhasil balasan dari anak sungguh diluar akal sehat kita sebagai manusia. 

Silahkan dibaca, moga bermanfaat. 

Gambar dari rohis-facebook.blogspot.com

 
BULAN MERINDU
Oleh : Fuadi

Bulan merindu
Di usianya nan senja
Matahari lelap dalam pangkuan
Hening bening

Ia ingin menyandarkan lelah
Dari hiruk pikuk dunia busuk
Yang menyeret tubuh ringkihnya, gelisah
Di atas altar bara amarah

Batabata yang ia susun dari puzzle kehidupan dulu
Rubuh luruh oleh jiwajiwa angkuh
Yang lahir dan dibesarkannya dengan segenap ruh
Kini berwajah keruh

Dalam pasrah, bulan masih merindu
Malam penuh bintang
Sayap-sayap malam mengepak tenang
Dingin angin membunuh ingin

Ia tak ingin lagi bertanya
Tentang titik temu abuabu
Dalam isak tangis tertahan
Ia dekap Alif sepenuh iman


Alam Mayang, 221214
Selanjutnya »