Jumat, 07 April 2017

Rindu Terlarang




RINDU TERLARANG
Oleh : Fuadi

Engkau bertanya tentang rindu kepadaku, sedang hatiku adalah ceruk jenuh sebab mentari sudah pulang jauh sebelum pagi datang.

Lalu kau rayu dada langit
mengguncang-guncang awan
hujan angin riuh membasuh
daun-daun memoles nila
rumput-rumput kembali bersahaja

Ia tempeli pelatuk dendamku
ah, hujan telah membawa pulang ingatanku
memutar ulang segala yang ada
rindu, cinta dan airmata

Di sudut sunyi
terpukau aku di tepi senja
menatap ragu mentari pulang
selarik lagi malam kian lengang

PKU, 130816
Selanjutnya »

Kamis, 06 April 2017

Renungan




RENUNGAN
Oleh : Fuadi

Ini tentang kita yang menyambut Ramadhan dengan suka cita.  Bersarung-mukena berbaris berjajar shalat tarawih-witir bersama. Tadarus sambung bersambung mengumandangkan ayat-ayat-Nya nan agung. Di malam-malam-Nya menyemarakkan bulan-Nya. Kesempatan langka yang datang satu tahun sekali. Serasa kita adalah insan paling berguna, bahagia memancar dari raut tak lagi kusut. Sebulan penuh mengisi dada dengan siraman agama. Terpatri diri bagai santri, sebagai bekal sebelas bulan berjalan selepas Idul Fitri.


Bagai kilat waktu melipat. Sehari sesudah lebaran, masjid-masjid, mushalla dan langgar menemui sepi, sunyiii sekali. Suara azan mengiris tangis memanggil-manggil jama’ah. Subuh luruh, zuhur lamur, ashar kesasar, maghrib ghaib, isya merana. Hanya ada kakek-nenek bengek, yang nyawanya sudah hinggap di kepala berjumlah tiga, satu imam dua makmum. Muda-mudi asyik selfi, aploud foto ketawa-ketiwi di album lebaran berlatar senja-Nya yang emas. Di media sosial penuh gambar ketupat memikat aneka warna. Woii lebaran, bebas bablas, lupa makna dibaliknya. Hari Fitri hilang jati diri. 

Inilah kita, selalu salah kaprah. Inilah kita, tak menjaga hati. Bulan kesiangan. malam kelam mencekam. Hati kembali hitam.     
  

Lidah Api, 120616
Selanjutnya »

Rabu, 05 April 2017

Potret Anak-Anak Bangsa Menggapai Cita-Cita





POTRET ANAK-ANAK BANGSA MENGGAPAI CITA-CITA 
Oleh : Fuadi

Pagi ini mendung
Bermalas-malas Udin bolak-balik buku bekas
Judulnya “Hidup Sehat”
Ia dapatkan di tempat pembuangan sampah
Waktu membantu bapaknya memulung

Sudah tiga hari si Udin tak ke sekolah
Sejak SPP kembali dipungut
Jiwanya kecut
Sekolahnya mulai kembali angkuh
Mendongak ke langit tinggi
Hatinya nyeri bercampur iri
Nyata, hidup di kota pesimis ia bisa menggapai cita-cita
Nyata, hidup di kota alakadarnya
Hidup dari sampah ke sampah menjadi sampah?

Bapak-ibunya orang susah
Tapi ia ingin menjadi seorang dokter
Membantu orang-orang seperti bapak-ibunya dan dirinya
Tanpa BPJS dan sebangsanya
Gratis alias tidak dipungut biaya

Lain kisah Sabrina anak kota
Berkeinginan menjadi diplomat
Supaya negeri lebih berdaulat dan bermartabat
Yang sangat dinantikan rakyat
Tapi... kalau hujan hatinya sedih
Ia tak bisa belajar
Atap sekolahnya bocor dan kelasnya menjadi kolam renang
Nyatanya, di kota dan di desa sama saja, bocor!

Lain lagi kisah Aminah
Pengagum Fatimah binti Muhammad SAW kekasih Allah
Bercita-cita menjadi guru agama
Ia ingin membangun karakter anak-anak didiknya
Berakhlak mulia, rajin ibadah, patuh kepada orang tua
Dan memuliakan guru
Tapi... setiap pergi ke sekolah
Ia harus melewati jembatan gantung 
yang papan-papan pijakannya sudah lapuk dan licin 
di atas sungai deras berbatu-batu besar

Masih lekat dalam ingatannya, Syahid kawan satu kelasnya 
Malam selepas hujan jembatan gantung licin
Ia terpeleset, tubuhnya limbung huyung,    
“Byuuuuuur”
Air mata pelayat menitis ritmis

Inilah sebagian potret pendidikan kini   
Sementara orang-orang pandai
Sibuk membangun citra diri
mengumbar janji dari musim ke musim kampanye

Orang-orang pandai memutar balik kurikulum
Guru-guru berlaku kaku seperti robot yang diam
Dunia pendidikan sedikit kejam

Pekanbaru, 230117





Selanjutnya »

Selasa, 04 April 2017

Menjadi Pahlawan




MENJADI PAHLAWAN 
Oleh : Fuadi



Akun ingin menjadi pahlawan

“Horee”, sambut hangat adik-adikku

“Kalau sudah jadi pahlawan, belikan ayam goreng ya bang!”

“Hahaha”, suara emak membahana

Rumah mendadak menjadi ramai



Betul! aku ingin menjadi pahlawan

Akan aku tumbangkan si kapitalis bengis

“Huuuu”, suara tetangga pada gaduh



Aku usir naga-naga dari negeri ini

Agar kita tenang bekerja mengisi kemerdekaan

“Cie cie, pahlawan kesiangan kalee”

Ejek kawan-kawan kampungku



“Kamu pikir enak menjadi pahlawan”, gerutu ayah   

Pahlawan itu harus siap mengencangkan ikat pinggang

Tidak boleh merasakan sakit

Apalagi patah hati



Pahlawan itu selalu senyum walau dada ditembus peluru

Sembur ibu dari dapur



Hatiku mulai ciut bercampur kecut



Tiba-tiba nenek-kakek melecut semangatku



Cucuku mau menjadi pahlawan?

Iya mbah

Mengajilah!

Hapalkanlah Al-Qur’an

Perteguh iman

Bekerjalah dengan hati

Tetap teguh menegakkan keadilan



Itulah yang dilakukan Diponegoro,

Teuku Umar, Tuanku Imam Bonjol,

Pattimura, Sultan Hasanuddin, dan

Pahlawan-pahlawan bangsa ini dahulu



Sore itu langit sangat cerah di wajahku



PKU, 100816


Selanjutnya »