Rabu, 12 Juli 2017

Sajak Restu





SAJAK RESTU

Apalagi yang hendak dikata 
Malam adalah ruang perpisahan
Rongga-rongga siang mengelam 
Matahari membenam

Apalagi yang akan diucap, diungkap 
Jalan kita mulai bersisian 
Sebentar sampai di simpang 
Perpisahan membentang

Pergilah! buang rasa ragu 
Sebab perubahan tak bisa ditunda 
Hanya bisa dibaca 
Takdir Dia yang punya

Pucuk, 291116


Selanjutnya »

Selasa, 11 Juli 2017

Ratapan Rohingya



Membaca Rohingya, seperti membaca nasib Islam dimanapun berada kalau jumlah mereka minoritas atau sedikit dalam suatu negara atau wilayah. Faktanya begitu, mereka tidak bebas menjalankan aktivitas kehidupan. Apalagi yang menyangkut menjalankan ibadah, seperti pemakaian jilbab, shalat, puasa dan sebagainya. Mereka diatur sedemikian rupa, kalau perlu mereka dipaksa agar meninggalkan agama mereka. 

Jangan heran, karena Islamphobia telah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW mulai berdakwah. Kita lihat waktu zaman Nabi, ketidak sukaan mereka mulai dari perundingan-perundingan, ancaman sampai dengan pembunuhan. Tapi Nabi Muhammad SAW selalu dilindungi Allah SWT. 

Lain dengan nasib Rohingya, seperti sekelumit kisah di bawah ini. Selamat menikmati, semoga bermanfaat.

RATAPAN ROHINGYA



Sarapan pagi kami

adalah air mata darah menggelegak

yang terseduh dihadapan ibu-ibu kami diperkosa

yang diminum di depan bapak-bapak kami disiksa



Makan siang kami

adalah cacian dan rentetan tembakan

yang kami suap di atas puing-puing rumah hangus

dan bau sangit daging panggang saudara-saudara kami



Sedang malam bagi kami adalah debur-debur ombak

dan pulau  dimana tanahnya tak ingin jejak kami ada

oh, Tuhan!

Kau hamparkan bumi untuk manusia

lalu kami?

apa kami? 





Pekanbaru, 07/12/2016


 
Selanjutnya »

Senin, 10 Juli 2017

Kurang Baca



Selamat siang kawan dan saudara sekalian. Jangan suka menunda makan, bisa kena penyakit. Jangan menunda waktu untuk membaca, bisa lupa kebenaran, lupa sejarah, tumpulkan pemikiran. 

Apalagi zaman sekarang dimana fitnah dan kebenaran sulit dibedakan. Padahal zaman semakin modern, telekomunikasi semakin canggih. Apapun gosip/berita terkini cepat sekali masuk kuping kita. Tapi kebenaran? sulit sekali ditegakkan. 

Berangkat dari hal di atas agaknya puisi di bawah ini sedikit menggambarkan kejadian kasat mata yang kita tangkap sebagai kebenaran tapi penerapannya jauh pangang dari api, kenapa? Apa karena kurang baca?

Silahkan disimak puisi di bawah ini, semoga bermanfaat.  

KURANG BACA


Kata guru, aku kurang membaca
apa iya, batinku langsung kena ayan
melotot mata ini baca status kawan FB
perih berair, merah darah seperti pemabuk kelas berat
besoknya ibuku terpaksa beli kacamata kuda
supaya jalan fokus lurus ke sekolah
tidak lihat kanan kiri banyak setan
mengajak singgah main domino  

Baca pelajaran malas, membosankan
komik, cerita silat enak
mulai Petruk-Gareng sampai Naruto,
Pendekar Dua Satu Dua sampai Pendekar Rajawali Sakti
renyah rasanya
baca novel percintaan tak suka
dada dag dig dug jika baca
perkembangan otak terganggu apalagi imajinasi
membaca hatimu aku takut
Tuhan marah
asyik mengaji
sekali-kali, sembunyi-sembunyi

Kawanku Udin, malas juga baca
hobbynya main game, internetan, gadget
anak sekarang, tak kenal petak umpet,
gasing bikin pusing,
kereta-keretaan ketinggalan zaman

Karena malasnya membaca
sampai sekarang ia sering salah baca
blusukan dibacanya busukan
buya katanya buaya
inikan bahaya!

Sekarang ini
kalau malas baca apalagi tak pandai baca
keterlaluan
kalau sudah pandai membaca, pilah pilih bacaan
kalau tidak?
gampang dibodohi
berita menjadi fitnah
fitnah dianggap pembenaran

Karena malas baca?
nenek moyang manusia dibengkokkan pakai Homo Sapien,
Homo Soloensis, Meghantropus, dan sebangsanya
ada yang baca pura-pura tak baca
dicocok hidungnya
sst, diamlah
aku lagi baca

Pekanbaru, 15/12/2016


 
Selanjutnya »

Minggu, 09 Juli 2017

Kepada-Mu Kami Berserah




Assalamu'alaikum saudaraku, lama tak berjumpa. Selama Ramadhan absen posting, moga semuanya baik-baik saja dan selalu dalam lindungan Allah SWT. aamiin. 

Sebagai pembuka setelah Ramadhan 1438 H/2017 M di bawah ini puisi tentang musibah saudara kita di Aceh, semoga yang tertimpa bencana tabah dalam menjalaninya. aamiin. 

Berikut puisinya, selamat menikmati, semoga bermanfaat.

KEPADA-MU KAMI BERSERAH


Subuh yang begitu syahdu
tiba-tiba ambigu
sekali sentak
Aceh luluh lantak

Jalanan terbelah-belah
rumah, ruko, masjid,
semua luruh ke tanah   
jeritan kematian,
tangisan ketidakberdayaan
terpampang jelas dari wajah-wajah pias
melas, memelas

O, Negeri Serambi Mekah
apalagi yang salah dari ulah
hingga musibah tak mau kalah
duka-duka silih menyapa

Akhir Desember Tsunami dulu
kisah tragis maha dahsyat
ratusan ribu mayat tanpa nisan
berkubur berdesakan

Ya Tuhan
ini minggu awal Desember
cukupkanlah segala ujian dan musibah
kepada-Mu kami berserah.

Pekanbaru, 09/12/2016
 
Selanjutnya »

Rabu, 17 Mei 2017

Puisi Hati




HATI-HATI HATI
Oleh : Fuadi

Padamu ada hati
Berhati-hati menjaga hati
Ada yang mencari hati
Ada yang mencuri hati

Hati-hati bertindak
Hatimu ada tidak?
Tidak ada hatimu?
Ada hatimu di hatiku

Hatiku milik-Nya
Hatimu milikku
Hatiku hatimu milik-Nya
Milik-Nya segala hati

Hati-hati menempatkan hati
Hatiku bukan tempat segala hati
Hanya untuk satu hati
Sampai mati hati

Pekanbaru, 10/12/2016
Selanjutnya »