Selasa, 25 April 2017

Suara Jangkrik dan Purnama





SUARA JANGKRIK DAN PURNAMA
Oleh : Fuadi

Dulu,
bila malam tiba
di belakang rumah ini banyak jangkrik
 
menggesekgesekkan sayapnya  
merayu pasangannya

Purnama hadir
malam bercahaya
bintang kerlapkerlip
oh indahnya
keseimbangan alam terjaga

Dulu,
sebelum pusat perbelanjaan, hotel, apartemen, perkantoran
subur menjamur
lelap kita nikmati nyanyian jangkrik
di malammalamnya Tuhan

Dulu,
ya dulu

Kini,
kita cemas lelap
cemas mendengar suara "Jangkrik"
yang memaksa kita pindah
ke rumah yang entah

Sebab purnama
kini punya orang pintar dan berpunya
sementara nelayan dan orang miskin menunggu denyut jaring
tersenyum miring
di teluk reklamasi  

Inilah negeriku
tanah tumpah darahku
di mana tanahnya dibeli setengah mati
airnya dialirkan ke dompetdompet tuanku

PKU, 120317

Selanjutnya »

Minggu, 23 April 2017

Cintaku Tertambat di Curug Penganten





CINTAKU TERTAMBAT DI CURUG PENGANTEN
Oleh : Fuadi



Tiap kali singgah di kotamu

Ada hasrat yang menggebu

Dibelai lembut angin Padaasih

Terkenang aku padamu kekasih



Kekasih yang dulu kutinggalkan

Di antara persawahan dan perbukitan

Merdu sungguh burung bernyanyi

Dan sapa ramah para petani



Di antara curah air yang berkilauan

Wajah pengantinku mengambang dipermukaan

Mengajakku berdayung sampan

Meliuk-liuk dideras arus dan bebatuan



Senda gurau, gelak tawa memecah hening

Kitalah sepasang pengantin penghibur

Bagi tamu-tamu melepas libur

Di tengah-tengah indah alam nan subur



Tiap kali ke sini

Aku ingin hidup seribu tahun lagi

Duhai permataku yang hilang

Aku datang dihadapanmu, sayang





Pucuk, 300317
Selanjutnya »

Sabtu, 22 April 2017

Sesal





SESAL
Oleh : Fuadi



Begitulah diri

Kadang berarti tidak

Berjalan sendiri

Rapuh landasan pijak


Turuti hasrat batu

Lupa aturan baku

Seakan diri sempurna

Padahal di tepi jelaga



Ooo, hati nan ambigu

Langkah tak tahu tuju

Puja puji diri sendiri

Hati mati



Sansai diri tergadai iman

Sesal datang kemudian

Digapai-gapai harga diri

Sudah jauh pergi



Rumah tampak

Jalan lindap

Menangisi senyap

Mengharap secercah harap



PKU, 170616


Selanjutnya »

Kamis, 20 April 2017

Sepotong Doa Untuk Aleppo





SEPOTONG DOA UNTUK ALEPPO
Oleh : Fuadi



Aku takut, sungguh!

jangan kau ajak aku kesana

menyaksikan ulah manusia beradab katanya

Aleppo, menjadi ranah tak beradab



Di atas puing-puing, di celah-celah gumpalan debu

teronggok potongan kepala manusia

bola matanya yang sebelah kanan meloncat keluar

mencari jasadnya terkena bom udara tadi pagi



Di jalan menuju masjid yang tinggal kubahnya saja

sepotongan tubuh ngesot, badannya buncit

di jari manisnya melingkar sebuah cincin

ia mencari kekasihnya yang tersiram bom fosfor



Di dinding rumah hampir rata dengan tanah

tersandar mayat seorang bocah

kepalanya tinggal setengah

di dadanya sebuah Al-Qur’an ia dekap erat



Ibu-ibu pengungsi disekap

diperkosa di hadapan suami dan anak-anaknya

biadab!, sungguh kata apalagi yang pantas

untukmu wahai durjana!



Adakah polisi dunia datang?

adakah bapak moyang HAM datang?

Tidak! Mereka takut di VETO

yang ada hanya berita :

“Perang melawan teroris berlanjut” 



Seketika hening...

angin diam...

dunia bungkam



Ya Rabbi...

Engkaulah yang menciptakan langit dan bumi

yang menggerakkan angin, menggerakkan awan

maka kuatkanlah kaki-kaki mujahid

kalahkanlah musuh-musuh-Mu dan musuh-musuh mujahid

aamiin.



Pucuk, 050117


Selanjutnya »